KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Sajian berbuka yang beragam, gurih, dan bersantan memang menggoda. Namun di balik kelezatan tersebut, ancaman kolesterol tinggi berpotensi meningkat selama bulan Ramadan.
Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan pola makan berlebihan, baik saat sahur maupun berbuka puasa.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menegaskan perubahan pola makan dan waktu istirahat selama Ramadan dapat berdampak pada kondisi tubuh apabila tidak di atur secara bijak.
“Menjaga pola makan selama Ramadan sangat penting, terutama bagi masyarakat yang memiliki kadar kolesterol tinggi,” ujarnya, Kamis (27/2/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi makanan berlemak, gorengan, serta santan secara berlebihan berisiko meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.
Selain pola makan, perubahan jam makan dan jam tidur selama Ramadan juga dapat menyebabkan tubuh terasa lebih lemas, menurunnya konsentrasi, hingga meningkatnya risiko sakit apabila asupan gizi tidak seimbang.
Untuk mencegah kenaikan kolesterol selama Ramadan, dinas membagikan 10 jurus menjaga kesehatan selama berpuasa, yakni:
- Perbanyak konsumsi makanan berserat seperti buah, sayur, dan biji-bijian.
- Hindari makanan yang digoreng serta tinggi lemak jenuh.
- Pilih sumber protein rendah lemak, seperti ikan, ayam tanpa kulit, dan kacang-kacangan.
- Batasi konsumsi gula dan garam berlebih.
- Perbanyak minum air putih saat sahur dan berbuka.
- Makan secara perlahan dan hindari porsi berlebihan.
- Konsumsi lemak sehat dari kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan.
- Hindari makanan olahan yang tinggi lemak trans dan garam.
- Tetap melakukan olahraga ringan secara rutin.
- Konsumsi suplemen bila perlu.
Ramadhan juga memberikan contoh menu sehat yang dapat diterapkan masyarakat. Untuk sahur, menu seperti oatmeal dengan buah, telur rebus, dan sayuran dinilai baik untuk menjaga keseimbangan gizi.
“Saat berbuka, sebaiknya diawali dengan kurma dan air putih, kemudian makanan ringan seperti salad atau buah. Untuk makan malam, ikan, sayuran, dan nasi merah lebih aman bagi kesehatan,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat tidak hanya fokus pada kenikmatan sajian berbuka, tetapi juga memperhatikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan.
“Puasa seharusnya membuat tubuh lebih sehat, bukan sebaliknya. Kuncinya ada pada pola makan yang terkontrol,” tutupnya.





