Oleh: Najmi Fuady
• Dosen Universitas NU Kalsel
• Ketua PPK Banjarmasin Selatan Pilkada 2024
PAGI ini, 19 April 2025, selepas mengantar anak ke sekolahnya, saya berkendara dengan sepeda motor ke Kota Banjarbaru untuk sekadar melihat dan merasakan atmosfer warga yang sedang melaksanakan pesta demokrasi “kedua” nya.
Sepanjang perjalanan dari Kota Banjarmasin, saya merasakan langit Banjarbaru tak sekadar cerah. Ia terasa tenang, seperti memberi jeda bagi warga kota untuk bernapas dalam-dalam sebelum kembali menegaskan hak pilih mereka.
Di salah satu TPS di Landasan Ulin, seorang wanita paruh baya berdiri sambil mengipas dirinya dengan surat suara. Ia datang lebih awal dari biasanya, menutup lapak dagangnya lebih cepat. “Supaya lakas bulik, hati jua tenang (biar cepat pulang, hati juga tenang),” katanya sambil tersenyum kecil.
Tak jauh dari sana, seorang anak muda membantu orang tuanya turun dari sepeda motor. “Bahari rasa koler datang ke TPS, wahini.. kenapa rasanya penting aja datang (dulu sempat malas memilih, tapi sekarang… rasanya penting aja buat datang),” ucapnya.
PSU Kesempatan Kedua Banjarbaru Untuk Berbenah
Hari ini, bukan cuma soal mencoblos. Warga Banjarbaru datang ke TPS dengan rasa yang lain. Dan bukan juga karena euphoria. Tapi karena sesuatu dalam diri mereka berkata: kita harus hadir. PSU ini, bagi banyak orang, adalah kesempatan kedua. Setelah luka dari pilkada kemarin, warga ingin ikut serta berbenah—tanpa ribut-ribut, tanpa gaduh.
Kita semua tahu, beberapa bulan lalu suasana tak secerah ini. Pilkada (Pemilihan) di Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini sebelumnya berjalan penuh catatan yang tidak elok. Banyak yang merasa hak mereka tak utuh. Banyak pula yang kecewa, marah, dan bingung. Tapi yang menarik, warga Banjarbaru tidak memilih untuk menjauh. Mereka tidak tinggal diam. Justru hari ini, mereka datang kembali—dengan lebih tenang, lebih sadar, lebih siap.
Di TPS, saya tak hanya melihat barisan pemilih, tetapi juga harapan. Ada seorang bapak yang baru pulang dari sawah tapi tetap datang mencoblos. Juga nampak hadir seorang perempuan yang sambil bawa anak, tetap ikut mengantre. Ada juga anak-anak muda yang sibuk membantu lansia menuju bilik suara. Tak ada yang bicara soal siapa yang harus terpilih. Yang ada justru keinginan bersama bahwa semoga kali ini adil, semoga kali ini damai.
Banjarbaru hari ini memberi pelajaran yang sederhana tapi penting bahwa demokrasi itu bukan soal ramai-ramai dukung mendukung. Demokrasi adalah soal ruang-ruang untuk saling percaya, ruang untuk bicara, dan ruang untuk ikut menentukan arah bersama.
Di bilik suara, kita mungkin hanya sendiri. Tapi sejatinya, kita tak sedang sendirian. Ada wajah tetangga, ada suara keluarga, ada harapan kota, yang kita bawa masuk bersama ke sana. Dan apa pun pilihan kita, yang lebih penting adalah kita memilih dalam damai.
PSU ini tidak menjanjikan segalanya jadi sempurna. Tapi ia menunjukkan bahwa luka bisa dipulihkan, asal kita mau datang kembali dan ikut memperbaiki. Bahwa rasa kecewa bisa dilampaui, asal kita tak menyerah menjaga harapan.





