KALSELMAJU.COM, KANDANGAN – Berawal dari kegemarannya menikmati kue kering, Fat’uliya, generasi Z asal Kandangan, Kalimantan Selatan, tak menyangka hobinya justru membuka jalan rezeki. Di usia 23 tahun, ia memberanikan diri merintis usaha kue rumahan bernama Cookiesku.id di tengah situasi pandemi.
Ia mengaku mulai memikirkan usaha kue kering tersebut saat pandemi Covid-19 membuat banyak peluang kerja terbatas. Kondisi itu mendorongnya untuk tidak hanya menunggu, tetapi mencoba menciptakan penghasilan sendiri.
“Waktu pandemi, saya butuh uang, jadi saya mencoba membuat usaha rumahan,” ujar Fat’uliya Owner Cookiesku.id kepada kalselmaju.com.
Sejak saat itu, ia mulai memproduksi berbagai kue kering seperti nastar, nastar wafer, putri salju, kastengel, kue kacang, kue semprit, cookies nutella, hingga palm cheese. Tak hanya itu, ia juga mengembangkan kue basah seperti brownies kukus, bolu original, dan bolu marmer yang perlahan mendapat respons positif dari pelanggan.
“Saat ini saya fokus membuat bolu, karena hampir setiap hari banyak pesanan Bolu”tambanya.
Cookiesku.id Hanya Gunakan Transaksi Digital
Seiring meningkatnya pesanan, Owner Cookiesku.id Fat’uliya terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak menggunakan pembayaran digital. Ia kemudian memanfaatkan layanan BRI, khususnya QRIS dan mesin EDC Android BRI, untuk mempercepat transaksi sekaligus menata pencatatan usaha.
Ia menjalankan transaksi dengan lebih praktis. Pelanggan cukup melakukan tap, dip, atau swipe untuk pembayaran kartu debit dan kredit. Ia juga melayani QRIS dinamis yang langsung menampilkan nominal di layar EDC sebelum pelanggan Cookiesku.id memindai kode melalui ponsel. Selain itu, ia menerima pembayaran BRIZZI dengan cukup menempelkan kartu hingga saldo terpotong.
Setiap transaksi berlangsung cepat, mulai dari input nominal, proses pembayaran, hingga struk yang langsung keluar. Di akhir hari, ia rutin melakukan settlement agar seluruh transaksi kue kering tercatat resmi dan dana masuk ke rekening usaha keesokan harinya.
Tidak hanya itu, Fat’uliya juga memantau perkembangan usahanya melalui aplikasi BRImerchant di ponsel. Ia dapat melihat riwayat transaksi hingga omzet harian tanpa harus selalu berada di lokasi usaha.
“Sebagai nasabah BRI, saya merasakan banyak kemudahan. Transaksi jadi lebih cepat, pelanggan lebih nyaman, dan pencatatan usaha lebih tertata,” ujarnya.
Bagi Fat’uliya, digitalisasi bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga strategi untuk menjaga daya saing usaha. Ia menilai kecepatan layanan dan kemudahan pembayaran menjadi kunci dalam mempertahankan pelanggan.
Pelanggan Cookiesku.id, Dina, mengaku sudah sering membeli kue dari buatan gadis berusia 23 tahun itu secara online, selain pelayanan pembelian yang cepat dan praktis, rasa kuenya juga enak dan renyah.
“Rasa kuenya rumahan yang dibuat cookies.id enak banget, bisa dibawa kemana aja lagi”ujar seorang pelanggan.
Sementara itu, Pimpinan BRI A Yani Banjarmasin, Muhammad Akbar mengatakan BRI berkomitmen mendukung pelaku usaha melalui pemanfaatan layanan digital.
“Makanya saat ini kami terus mempermudah layanan digital, salah satunya mesin EDC”ujarnya.
Ia juga menjelaskan, Selain dibekali dengan kemudahan melalui mesin EDC (Electronic Data Capture), Pelaku UMKM juga didorong untuk memperkuat ekosistem transanksi non tunai lain seperti Qris.
“Kami berharap pemanfaatan layanan digital BRI dapat terus meningkat, agar pelaku usaha dan perekonomia daerah bisa berputar cepat” harap Akbar.





