Jadi Model Pengelolaan Sampah Berbasis Kepedulian Sosial, Markisa Syamsudin Noor Buktikan Dampak Ekonomi

oleh
Wali Kota Banjarbaru saat menghadiri hari jadi Markisa Syamsudin Noor yang berfokus pada pengelolaan sampah berbasis sosial. Foto : Istimewa
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program Markisa (Mari Kita Sedekah Sampah) di kawasan Syamsudin Noor kian menunjukkan dampak nyata. Tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan sampah, gerakan ini juga berkembang menjadi sarana berbagi bagi warga kurang mampu.

Memasuki usia satu tahun sejak berdiri pada 15 Juni 2025, Markisa berhasil membuktikan sampah memiliki nilai ekonomi sekaligus sosial. Hasil penjualan sampah plastik dan aluminium kembali kepada masyarakat dalam bentuk bantuan.

Dalam peringatan tersebut, Wali Kota Banjarbaru  Erna Lisa Halaby, menilai Markisa sebagai contoh inovasi masyarakat dan perlu memerluas. Menurutnya, program ini mampu mengubah cara pandang warga terhadap sampah, dari sekadar limbah menjadi sumber manfaat bagi sesama.

“Gerakan ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membangun solidaritas sosial. Ini yang perlu terus didorong,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peningkatan volume sampah seiring pertumbuhan penduduk Kota Banjarbaru. Karena itu, langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah sangat penting untuk menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan sementara (TPS).

Pengelolaan Sampah Markisa Berkembang Signifikan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru Santi Eka menyebut, konsep sedekah sampah juga dapat berjalan di wilayah lain. Pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat serta memetakan karakteristik sampah di tiap kelurahan guna mendukung program pengurangan dari sumbernya.

Ketua RT 33 RW 07 Yoni Setiawan menjelaskan, perkembangan Markisa cukup signifikan dalam satu tahun terakhir. Volume sampah plastik yang terkumpul meningkat dari sekitar 190 kilogram per bulan menjadi 500 kilogram per bulan.

“Bahkan total sampah yang tidak masuk ke TPS mencapai tiga ton,” jelasnya.

Saat ini, Markisa memiliki empat kotak sedekah sampah yang berada di sekolah-sekolah. Dua unit bantuan dari program CSR. Selain itu, sejak Maret 2026, pengelolaan sampah juga semakin luas dengan mengolah sampah organik menjadi kompos yang melibatkan belasan relawan di bidang sanitasi dan lingkungan.

Pada peringatan satu tahun, hasil pengelolaan sampah disalurkan dalam bentuk 40 paket bantuan berupa beras dan tabung gas elpiji 3 kilogram bagi warga yang membutuhkan.

Yoni berharap gerakan ini terus berkembang dan semakin banyak masyarakat yang terlibat. “Kami ingin sedekah sampah ini menjadi kebiasaan, sehingga pengurangan sampah bisa lebih signifikan sekaligus memberi manfaat sosial,” tutupnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today