KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Pihak Dinas Kehutanan Kalsel memastikan pengembangan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam tak mengganggu pelestarian alam. Dengan menggunakan konsep pengembangan wisata alam berbasis konservasi.
Upaya tersebut untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata Banua tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan fungsi kawasan hutan. Tahura Sultan Adam sendiri merupakan kawasan konservasi seluas 116.103,51 hektare berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 1989.
Kawasan ini memiliki peran penting sebagai tempat pelestarian flora dan fauna khas Kalimantan. Lokasi penelitian hutan hujan tropis, hingga sarana pendidikan dan penyuluhan lingkungan hidup.
Selain fungsi konservasi, Tahura juga berkembang sebagai destinasi wisata alam yang mengedepankan konsep keberlanjutan.
Pengembangan kawasan wisata ini meliputi titik di Mandiangin dan Bukit Batu. Sementara Puncak Pamaton akan menjadi destinasi baru.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, mengatakan dari total luas kawasan Tahura, area untuk wisata hanya sekitar 1.081 hektare atau sekitar 0,93 persen. Rinciannya, kawasan wisata Mandiangin seluas 438 hektare, Bukit Batu 234 hektare, dan rencana pengembangan Puncak Pamaton seluas 409 hektare.
Sarpras Maksimal Hanya 10 Persen dari Tiap Objek Wisata Tahura Sultan Adam
“Pengembangan fasilitas wisata juga dilakukan secara terbatas dan tetap memperhatikan keseimbangan ekologis kawasan,” kata perempuan dengan panggilan Aya itu.
“Pembangunan sarana dan prasarana maksimal hanya 10 persen dari luas masing-masing objek wisata, sesuai ketentuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 8 Tahun 2021,” sambungnya.
Pembatasan tersebut untuk menjaga keaslian bentang alam, mempertahankan tutupan hutan, serta melindungi fungsi ekologis kawasan Tahura Sultan Adam. Termasuk menjaga sistem hidro-orologis Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kanan yang berpengaruh terhadap Kota Banjarmasin dan kawasan pertanian di Kalsel.
Masyarakat Kalsel pun dapat menikmati destinasi wisata alam dengan biaya terjangkau, namun tetap memiliki panorama yang tidak kalah menarik dari daerah lain di Indonesia.
Keberadaan objek wisata di Tahura Sultan Adam juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Selain membuka lapangan pekerjaan, pengembangan wisata turut mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan UMKM, kuliner, hingga jasa wisata berbasis lingkungan,” ujar Aya.





