KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Kasus penyakit kencing tikus ternyata sudah beredar. Meski tak menjadi sorotan seperti kasus lainnya. Namuan kasus tersebut sudah memakan. Tercatat satu orang di Kalimantan Selatan (Kalsel) meninggal dunia.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, pada tahun 2024 terdapat 1 kasus penyakit kencing tikus. Kemudian, tahun 2025 meningkat menjadi 1 kasus. 1 orang asal Balangan meninggal dunia. Selebihnya sembut setelah penanganan.
“Penyakit kencing tikur menular dari hewan ke manua. Tapi tidak dari manusia ke manusia. Penyebab penularan bakteri spiral. Dampaknya sampai kematin apabila tidak tertangani dengan benar,” jelas Anhar Ihwan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kalsel, Rabu (16/7/2025).
“Infeksi bersumber dari kencing tikus misal di air atau tanah atau bahkan di makan. Lalu terkena luka atau lecet kulit manusia maka bisa terinfeksi. Massa inkubasi antara 2-30 hari,” tambah Anhar.
Menurut Anhar, gejala akibat infeksi penyakit kencing kemih tikur selayaknya sakit lainnya. Yaitu panas tinggi secara mendadak lebih dari 38 derajat celcius. Lalu sakit kepala, tubuh lemas, kulit kekuning-kuningan, mata merah, hingga nyeri pada betis.
“Jika terjadi demikian maka segera bawa ke fasilitas Kesehatan (Faskes) terdekat. Untuk memastikan bisa pemeriksaan laboratorium lanjutan. Jika mengarah ke infeksi kencing kemih tikus maka lanjut rapid tes darah yang dapat mendeteksi penyakit kencing tikus. Jika positif selanjutnya tes PCR,” bebernya.
Pemerintah Antisipasi Penyakit Kencing Tikus
Lantas bagaiamana langkah antisipasi dari Dinas Kesehatan Kalsel? Anhar menyebut pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran (SE) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota. Dalam SE tersebut menyatakan kewaspadaan terhadap peningkatan kasus kencing tikus. Selain itu juga meningkatkan surveilans mendeksi lebih dini. Sehingga bisa mengetehui lebih awal dan menghindarkan tingkat resiko yang lebih tinggi.
Kedua masih dalam SE tersebut menghimbau kabupaten kota melengkapi faskes. Baik itu logistic, alat tes Kesehatan, rapid tes, obat-obatan, dan kesiapsiagaan petugas. “Ketiga menyediakan media komunikasi informasi dan edukasi agar masyarakat mengetahui dan bisa menghindarka resiko infeksi tadi. Keempat melakukan promosi kegiatan upaya kewaspadaan. Berupa imbauan perilaku hidup bersih (PHBS). Jangan sampai setelah berada di luar datang ke rumah langsung makan tanpa mencuci tangan dengan bersih,” ujarnya.
Anhar menyatakan, berdasar data semen infeksi kancing kemih tikus terjadi kepada golongan tertentu. Pertama petani, buruh kebun, dan buruh bangunan. Dari kasus yang ada teridir 3 petani, 1 buruh kebun, 1 buruh bangunan. “Petani mendominasi. Karena biasanya saat di ladang itu kan ada bekas kemih tikus,” pungkasnya.





