KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Kota Banjarmasin mencatat angka pengangguran tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan data tahun 2024, jumlah pengangguran di kota ini mencapai 21.220 orang, dengan mayoritas berasal dari lulusan SMA.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin, Isa Anshari mengatakan bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya akses informasi lowongan kerja, terutama bagi lulusan pendidikan menengah.
“Pengangguran di Banjarmasin mayoritas lulusan SMA. Mungkin karena keterbatasan informasi tentang lowongan kerja selama ini,” terang Isa usai membuka kegiatan Job Fair, di Halaman Balai Kota, Rabu (17/9/2025).
Isa juga menyampaikan bahwa berbagai upaya telah mereka lakukan untuk menekan angka pengangguran tersebut.
Salah satunya menggelar job fair yang mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan.
Agar lanjutnya bisa membuka akses informasi pekerjaan yang lebih luas.
“Harapannya dari job fair ini, para pencari kerja bisa langsung mendapatkan informasi dan melamar sesuai minat mereka,” tuturnya.
Selain itu, kata ia pihaknya juga secara rutin menggelar pelatihan keterampilan seperti menjahit, memasak, membuat kue, hingga teknik pengelasan.
Peserta pelatihan direkrut dari hasil pendataan di tingkat kelurahan berdasarkan minat dan kebutuhan warga.
“Kami data dulu siapa yang berminat, lalu disampaikan ke kami untuk ditentukan jenis pelatihannya,” sebutnya.
Sehingga kata Isa upaya itu membuahkan hasil. Berdasarkan catatan Diskopumker, tingkat pengangguran terbuka di Banjarmasin menurun dari 6,7% menjadi 6,5% pada tahun 2024.
Meski demikian, angka tersebut masih menjadi yang tertinggi di Kalimantan Selatan.
“Memang belum signifikan, tapi setidaknya ada penurunan. Ini jadi motivasi untuk terus bekerja lebih baik,” ujarnya.
Batas Usia dari Perusahaan jadi Hambatan Pencari Kerja
Di sisi lain, salah seorang pencari kerja, Syauqi menilai masih banyak tantangan di lapangan. Salah satunya adalah batasan usia dari perusahaan dalam proses rekrutmen.
Syauqi, mengaku sudah mencoba melamar lewat berbagai platform—baik online maupun offline—namun belum juga mendapatkan panggilan.
“Kita ingin kerja sesuai passion, tapi faktanya nggak semudah itu. Sudah coba di banyak tempat, akhirnya datang ke job fair ini,” ungkapnya.
Menurutnya, salah satu hambatan besar adalah persyaratan usia maksimal yang kerap menjadi tembok tinggi bagi pencari kerja di atas usia 30 tahun.
Padahal, menurutnya banyak pencari kerja yang sudah punya pengalaman, namun tetap terganjal oleh aturan tersebut.
“Bersaing dengan yang muda saja sudah sulit, ditambah batasan umur. Harusnya perusahaan lebih melihat potensi, bukan usia,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah dan perusahaan bisa lebih adaptif dan membuka peluang kerja yang lebih inklusif, tanpa diskriminasi usia.
“Kalau bisa, batasan usia dihapus. Yang cari kerja bukan hanya anak muda. Pemerintah juga harus memperbanyak lapangan kerja dan buka peluang untuk semua usia,” akhirnya.





