Mesiwah Pare Gumboh ke-7 Dibuka, Lestarikan Tradisi Panen Dayak Deah di Balangan

oleh
oleh
Mesiwah Pare Gumboh ritual adat panen suku Dayak Deah oleh warga Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. (Foto: MC Balangan)
Spread the love

KALSELMAJU.COM, PARINGIN – Pemerintah Kebupaten Balangan, Kalimantan Selatan, mendukung tradisi tahunan Mesiwah Pare Gumboh (MPG). Kegiatan ini merupakan ritual adat panen suku Dayak Deah oleh warga Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan.

Acara ini berlangsung secara gotong royong karena menjadi sarana penting dalam melestarikan budaya lokal sekaligus mempererat kekerabatan di tengah masyarakat.

Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Balangan, Sufriannor, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat. Ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian budaya dan alam sebagaimana budaya masyarakat Dayak Deah. Sebagai promosi budaya dan pariwisata, tradisi Mesiwah Pare Gumboh yang sebelumnya terlaksana secara terpisah, kini perayaannya terbuka bagi masyarakat luar.

“Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kebudayaan kita. Harus terus dilestarikan agar jangan punah,” ujar Pj Sekda Balangan saat membuka MPG, Jumat (18/07).

Sufriannor berharap event ini terus mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah daerah. Dukungan harapannya juga muncul dari kementerian dan lembaga terkait. Tradisi ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengembangkan budaya dan kreativitas.

Anggota DPRD Balangan, Supianoor hadiri Festival Budaya Mesiwah Pare Gumboh (MPG) ke-7. (Foto: MC Balangan)

Ungkapan Rasa Syukur Panen Warga

Sementara itu, Kepala Desa Liyu, Sukri, mengatakan, Mesiwah Pare Gumboh merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat. Acara ini berterima kasih atas keharmonisan hidup dan berkah panen dari Tuhan. Tradisi ini berasal dari masyarakat nomaden di pedalaman, khususnya Desa Liyu dan Gunung Riut.

“Mesiwah Pare Gumboh bukan sekadar acara pelestarian budaya, tetapi juga memiliki misi penting. Selain menjaga dan merawat tradisi, MPG juga membawa misi sosial sebagai perekat kekerabatan di tengah masyarakat. Ini dilakukan melalui semangat kekeluargaan dan gotong royong. Seluruh proses persiapannya pun kami lakukan bersama-sama,” jelasnya.

Sukri juga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat terus memberikan dukungan terhadap MPG sebagai event budaya kebanggaan Kabupaten Balangan.

Kemeriahan acara berlangsung selama tiga hari, dari 18 hingga 20 Juli 2025. Acara diadakan di dua lokasi utama yaitu Balai Adat dan Pasar Budaya. Beragam pertunjukan seperti sanggar tari, pemusik lokal, dan parade tarian tradisional Dayak hadir. Selain itu, ada konser musik yang menghadirkan bintang tamu. Semua itu menjadikan MPG sebagai perayaan budaya yang penuh warna dan semangat. (MAKIN TAHU INDONESIA)

Visited 1 times, 1 visit(s) today