Kasus ISPA Banjarbaru Tembus 21.323, Melonjak Sejak Bulan Juli Tahun 2026

oleh
Kabut Asap menjadi salah satu penyebab melonjaknya kasus ISPA di Kota Banjarbaru. Foto : Istimewa
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Banjarbaru menunjukkan peningkatan di tengah tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.

Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat sebanyak 21.323 kasus ISPA secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2026. Peningkatan paling mencolok mulai terlihat memasuki pertengahan Juli.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, menyampaikan lonjakan kasus terlihat pada Minggu Epidemiologi ke-29 dan ke-30 tahun 2026.

“Pada Minggu ke-29 ada kenaikan dengan 879 kasus. Memasuki Minggu ke-30, jumlah penderita kembali melonjak menjadi 1.099 kasus,” ujar Siti.

Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kondisi udara yang berpotensi terdampak asap karhutla.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan mencatat terdapat 223 kejadian karhutla sepanjang Januari hingga 8 Agustus 2026. Luas lahan yang terbakar mencapai 568,86 hektare.

Menurut Siti, secara epidemiologis paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Asap hasil pembakaran lahan mengandung partikel halus, karbon monoksida dan sejumlah zat iritan yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan dan paru-paru.

Paparan tersebut dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari batuk, pilek, nyeri tenggorokan hingga sesak napas. Risiko gangguan yang lebih berat juga dapat terjadi pada masyarakat yang sebelumnya memiliki asma maupun penyakit paru kronis.

Peningkatan kasus ISPA tidak serta-merta seluruhnya karena kabut asap karhutla.

“Secara epidemiologi memang ada keterkaitan antara paparan asap dan risiko gangguan pernapasan. Tetapi kita tidak bisa menggeneralisasi seluruh kasus ISPA sebagai dampak karhutla,” jelasnya.

Kasus ISPA Tak Hanya Karena Kabut Asap

Menurutnya, pemicu ISPA juga dari berbagai faktor lain, seperti infeksi virus dan bakteri, perubahan cuaca, buruknya sirkulasi udara di dalam ruangan hingga paparan asap rokok.

Dalam situasi kualitas udara yang menurun, kelompok rentan menjadi perhatian khusus. Balita, anak usia sekolah, lansia, ibu hamil serta warga dengan penyakit jantung dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan udara tercemar.

Pemerintah meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kabut asap mulai menyelimuti permukiman.

Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, harus penggunaan masker dengan tingkat perlindungan tinggi seperti KN95 atau N95.

“Jika memang mendesak harus beraktivitas di luar ruangan, warga sebaiknya mengenakan masker standar perlindungan tinggi seperti jenis KN95 atau N95,” imbaunya.

Selain itu, warga juga harus menutup pintu dan jendela ketika asap mulai masuk ke dalam rumah. Kondisi tubuh juga perlu istirahat yang cukup dan memperbanyak konsumsi air putih.

Dinkes turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar.

Warga yang mengalami gejala pernapasan berkepanjangan juga diminta tidak menunda pemeriksaan medis, terlebih apabila disertai gejala yang semakin berat.

“Apabila mengalami batuk berlanjut, sesak napas, demam, atau nyeri dada, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” pungkas Siti.

Visited 1 times, 1 visit(s) today