KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau yang kemungkinan puncaknya pada September 2026. Serta memperkuat produktivitas pertanian.
Berbagai upaya untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mencegah kebakaran lahan.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau akan berlangsung hingga akhir Oktober, sementara hujan baru mulai turun secara bertahap pada akhir tahun.
Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman mengaku sudah melakukan mitigasi jauh-jauh hari agar sektor pertanian tetap aman menghadapi musim kemarau panjang.
“Mulai dari menyampaikan surat imbauan kepada dinas pertanian kabupaten/kota hingga meminta kelompok tani menyiapkan pompa air, sumur bor, dan embung sebagai sumber pengairan,” ujarnya.
Selain memastikan ketersediaan sumber air, DPKP Kalsel juga mengantisipasi potensi kebakaran lahan pertanian saat musim panen.
Mendorong penggunaan mesin panen combine harvester karena mampu memotong batang padi lebih rendah sehingga mengurangi sisa jerami yang mudah terbakar.
“Bantuan alat dan mesin pertanian seperti combine harvester maupun pompa air penyalurannya oleh Kementerian Pertanian melalui Brigade Pangan. Serta dukungan Pemprov Kalsel melalui APBD,” jelasnya.
Selain itu, DPKP Kalsel juga melakukan penyesuaian pola tanam sebagai bagian dari strategi menghadapi kemarau. Untuk komoditas padi, petani harus mempercepat waktu tanam sebelum puncak kemarau. Sedangkan untuk jagung dilakukan penyesuaian jadwal agar tidak ditanam pada periode kekeringan.
Di sisi lain, pemanfaatan air sungai sebagai sumber irigasi dilakukan secara selektif. Melalui Balai Perlindungan Tanaman Pertanian Hortikultura (BPTPH), pemerintah terlebih dahulu menguji kualitas air agar tidak menggunakan sumber air yang bersifat masam dan berpotensi merusak tanaman.
Hingga kini tercatat sekitar 5.803 hektare lahan pertanian di Kalimantan Selatan terdampak kekeringan. Namun, kondisi tersebut belum menyebabkan puso atau gagal panen.
Wilayah dengan dampak kekeringan terbesar berada di Kabupaten Tanahlaut seluas 3.393,3 hektare. Barito Kuala seluas 1.736,3 hektare dan Banjar seluas 353 hektare.





