Genangan di Daerah Jalan Brigjen Hasan Basri Ganggu Mobilitas Warga, Banyak Pegawai Terlambat Masuk Kantor

oleh
Spread the love


Banjarmasin kembali diguncang air saat hujan dan pasang air laut dan kali ini Kayu Tangi dan sekitaranya menjadi saksi bisu betapa rentannya kota ini terhadap banjir. Genangan tidak hanya menyulitkan warga melintas. Tetapi secara sistematis melemahkan produktivitas harian: pegawai terlambat, transportasi bobrok, serta aktivitas ekonomi tersendat. Fakta ini menegaskan bahwa problem banjir di Banjarmasin bukan musibah semata — melainkan kegagalan struktur dan perencanaan kota.

Fakta itu : Banjarmasin Banjir Lagi — dan Titik-titik Krisis Pun Terus Bertambah

  • Data dari BPBD Banjarmasin menunjukkan bahwa dalam kurun dua pekan di awal 2025, tercatat 114 titik banjir di kota ini akibat kombinasi curah hujan tinggi dan pasang air laut. Antara News+1
  • Di antara lokasi yang sering terdampak adalah Kayu Tangi. Kalselmaju.com+2Prokal – Portal Kalimantan+2
  • Kondisi ini bukan kebetulan — menurut seorang pakar tata kota yang dikutip dalam pemberitaan, penyebab utama adalah pendangkalan sungai dan berkurangnya daya tampung air. Pendangkalan terjadi termasuk pada sungai utama serta anak sungai di dalam kota. Prokal – Portal Kalimantan+1
  • Sebagian besar banjir rob terjadi ketika pasang air laut (rob) mencapai puncak. Terkadang air laut bisa naik hingga 2,8 meter di atas permukaan laut pada fase pasang tertinggi. Prokal – Portal Kalimantan+1

Dengan begitu, genangan di ruas-ruas seperti Kayu Tangi dan sekitaran Jalan Hasan Basri seolah menjadi inevitabilitas setiap kali kondisi laut plus hujan buruk bersamaan — bukan kejadian acak.

 Warga Mengeluh: Banjir Menunda Hidup Sehari-hari

Perempuan pedagang yang biasa mengandalkan mobilitas pagi hari misalnya, mengeluhkan penurunan pendapatan ketika jalanan tergenang. Dalam liputan terkait banjir rob, seorang pedagang menuturkan:

“Gara-gara banjir, jualan nggak laku.” Radar Banua+1

Pedagang kecil di sekitar simpang Kayu Tangi, Usman (55), menambahkan bahwa omsetnya turun drastis. “Biasanya jam 8 sudah ada pembeli. Tapi kalau banjir begini, orang-orang baru muncul jam 10. Dua jam itu sangat berarti buat kami yang hidup pas-pasan.

warga RW di kawasan pinggir sungai mengaku bahwa dalam beberapa tahun terakhir banjir rob terjadi lebih sering. Meskipun mereka rutin membersihkan selokan dan drainase, “Tapi banjir tetap terjadi,” kata salah satu ketua RT. Radar Banua+1

Sementara itu, seorang Warga sebagai pegawai kantoran pemerintahan kota Banjarmasin, juga mengeluhkan hal itu. “Akibat banjir di daerah Kayu Tangi membuat saya telat masuk kerja. Ditambah apabila saya turun lewat jam 07.00 WITAdipastikan macet juga di daerah jalan S.Parman” ujar Ulfa sebagai pegawai kantoran yang sering melewati rute jalan tersebut.

Keluhan seperti ini menggambarkan bahwa dampak banjir bukan sekadar basah atau rembes. Banjir juga mempengaruhi ekonomi warga, mobilitas harian, rutinitas kerja, dan rasa aman di rumah sendiri.

 Kenapa Ini Terjadi? — Penyebab Struktural & Kebijakan yang Lalai

Masalah banjir di Banjarmasin, termasuk di ruas penting seperti sekitaran jalan Hasan Basri, tidak bisa dilepaskan dari kegagalan manajemen tata ruang dan drainase:

  • Pendangkalan sungai & sedimentasi: Sungai besar dan anak sungai di dalam kota kini kehilangan kedalaman. Akibatnya, mereka tidak dapat menampung debit air saat hujan atau pasang. Prokal – Portal Kalimantan+2Prokal – Portal Kalimantan+2
  • Penutupan alur air alami oleh pembangunan sembarangan: Banyak lahan basah atau jalur air alami berubah fungsi menjadi permukiman, jalan, atau perumahan. Semua itu terjadi tanpa memperhatikan jalur aliran air. Radar Banua+2Radar Banua+2
  • Drainase yang tidak memadai: Saluran air di sejumlah titik, baik drainase kota maupun drainase lokal, tidak berfungsi optimal. Elevasi drainase terkadang lebih tinggi dari jalan. Akibatnya, air tidak bisa mengalir keluar. Syntax Literate+1
  •  Perencanaan jangka panjang yang kurang — respons hanya temporer: Banyak komplain dari warga dan tokoh lokal memprotes bahwa setiap banjir terjadi, upaya yang bersifat sesaat. Misalnya, pompa, penyedotan, dan pembersihan selokan dilakukan tanpa ada perbaikan struktural menyeluruh. Radar Banua+2Radar Banua+2

 Kesimpulan & Imbauan: Sudah Waktunya Banjarmasin Berbenah Serius

Banjarmasin tidak bisa terus menerus tertatih dalam menghadapi kenormalan baru yang menjadikan rob dan genangan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Banjir di daerah Hasan Basri ini adalah ruas penting dengan arus mobilitas tinggi. Ini harus dibaca sebagai alarm bahwa sistem tata ruang dan pengelolaan air kota telah gagal memenuhi kebutuhan dasar: mobilitas aman, lingkungan layak, dan produktivitas hari ke hari.

Pemerintah daerah bersama pemangku kebijakan harus segera mengambil langkah konkret:

  • Rehabilitasi sungai dan anak sungai: pengerukan sedimentasi dan pembersihan jalur air.
  • Revitalisasi sistem drainase kota dan pemukiman — bukan sekadar tambal-sulam.
  • Penataan ulang zona rawan dengan alih fungsi lahan berlebihan menjadi perumahan atau jalan beton.
  • Edukasi dan partisipasi warga untuk menjaga saluran air & mengelola sampah, agar drainase tidak cepat tersumbat.

Banjarmasin seharusnya bukan kota dengan “jadwal banjir” — melainkan kota yang mampu hidup berdampingan dengan air secara terencana. Jika tidak, Kayu Tangi dan ruas lainnya akan terus menjadi kisah banjir, kemacetan, dan produktivitas yang hilang — setiap musim hujan.

Artikel adalah opini

Penulis : mahasiswa magister ilmu komunikasi UNISKA, Istiana Yuliarny

Visited 1 times, 1 visit(s) today