Gunakan Rangka Voided Slab dan Panjang jadi 15 Meter, Jembatan Sei Ulin Banjarbaru Ternyata Berusia 46 Tahun

oleh
Jembatan Sei Ulin Km 31 Banjarbaru sedang proses pengerjaan rehabilitasi total. Foto ; Zoya NH/Kalselmaju.com
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Jembatan Sei Ulin di Jalan A. Yani Km 31 Banjarbaru sudah berusia 46 tahun. Pembangunan awal pada tahun 1979. Selama itu pula perbaikan jembatan ini hanya bersifat sementara.

Belum pernah perbaikan rehab total. Oleh karenanya, pihak pemerintah melakukan rehab total pada tahun ini. Dengan total anggaran Rp10,2 miliar. Jembatan baru menggunakan model atau rangka Voided Slab (pelat beton bertulang).

Jembatan yang ada saat ini menggunakan tiga jenis rangka. Yakni kayu ulin, balok beton, dan box culvert. Kondisi rangka sudah tidak layak. Bahkan pada 2024 lalu terjadi kerusakan. Jembatan berlubang yang membahayakan pengendara.

Setelah inspeksi struktur jembatan sudah tidak layak. Serta tidak memenuhi standar jembatan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). “Kami prioritaskan perbaikan jembatan ini agar lebih aman dan kokoh. Jembatan struktur kayu tidak memenuhi standar beban untuk jalan nasional,” ujar Anton Surviyanto, PPK 2.1 dari Balai Besar Pelaksana Jalan dan Jembatan Kalimantan, Jumat (13/6/2025).

Di samping tak memenuhi standar jalan nasional, struktur kayu juga menyebabkan aliran air terhambat. Pasalnya tiang cukup banyak, sehingga menyebabkan sampah sering tertahan di bawah jembatan.

“Jembatan sebelumnya mengganggu aliran air, karena banyaknya tiang ulin,” katanya.

Sementara jembatan baru akan memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Jika sebelumnya jembatan hanya sepanjang delapan meter, kini panjangnya 15 meter dan lebar 19,2 meter. Rancangannya mencakup dua jembatan di sisi kiri dan kanan jalan atau empat lajur sekaligus.

Struktur jembatan akan menggunakan desain Voided Slab dengan 36 tiang pondasi. Selain memberikan kekuatan struktural yang lebih baik, desain ini juga tanpa tiang tengah sehingga dapat melancarkan aliran sungai di bawahnya.

“Jembatan ini tidak hanya kuat, tetapi juga lebih ramah terhadap aliran sungai. Ini akan mencegah erosi atau penggerusan tanah seperti sebelumnya,” tambah Anton.

Proyek ini menelan anggaran Rp10,2 miliar dan target rampung selama 224 hari kalender atau hingga Desember 2025. Pelaksana proyek PT Salsabila Banun Banua. Pihak pelaksana menargetkan pengerjaan jembatan ini selesai pada November sebelum haul Guru Sekumpul yang jatuh pada Desember 2025.

Dampak Sosial Pembangunan Jembatan Sei Ulin

Pihak pelaksana juga memastikan meminimalisir dampak terhadap aktivitas masyarakat di sekitar proyek. Melalui koordinasi dengan Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Provinsi Kalsel (di dalamnya ada Polda, Polres, BPJN, Dinas Perhubungan Prov, Dinas Perhubungan Banjarbaru, BPJN Kalsel, Dinas PU Provinsi, Dinas PUPR Kota Banjarbaru, sosialisasi kepada warga, pedagang, pemilik warung, serta klinik sekitar sudah dilakukan sejak awal. Rambu-rambu dan spanduk telah dipasang di beberapa tempat untuk memudahkan pengguna jalan.

Bahkan, untuk mendukung kelancaran lalu lintas dan aktivitas ekonomi, telah dipasang rambu, spanduk, dan U-turn sementara guna memudahkan akses kendaraan yang sebelumnya terdampak oleh pengalihan arus lalu lintas.

Dini Sabrina Putri (20), salah satu penjaga toko di RA Store Banjarbaru, mengaku kondisi lalu lintas kini mulai membaik.

“Awalnya memang terdampak karena pengalihan arus, tapi setelah ada U-turn darurat, sekarang sudah agak lancar,” ujarnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today