Stunting Mandek di 26,5 Persen, Banjarmasin Butuh Aksi Nyata dan Kolaborasi Luas

oleh
oleh
stunting banjarmasin
Kepala Bappeda Kota Banjarmasin, Ahmad Syauqi. (Foto: Arum/ kalselmaju.com)
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Angka stunting di Kota Banjarmasin masih bertahan di 26,5 persen berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya penanganan belum optimal dan membutuhkan kolaborasi lebih luas lintas sektor.

Kepala Bappeda Kota Banjarmasin, Ahmad Syauqi, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya membebankannya kepada Dinas Kesehatan.

“Percepatan penurunan stunting bukan semata tugas Dinas Kesehatan. Kita butuh kolaborasi pentahelix—pemerintah, masyarakat, swasta, media, dan akademisi,” ujar Syauqi, Kamis (12/6/2025).

Menurutnya, intervensi spesifik seperti penyuluhan gizi dan pemberian makanan tambahan memang sudah berjalan, namun intervensi sensitif seperti sanitasi, pola asuh, dan pengentasan kemiskinan belum maksimal.

“Koordinasi antar-SKPD masih menjadi tantangan utama. Dinas Kesehatan sudah cukup maksimal, tapi faktor-faktor non-teknis belum tertangani secara menyeluruh,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Tabiun Huda, menyampaikan bahwa strategi terbaru adalah intervensi komprehensif berbasis data serta memperkuat kolaborasi.

“Kami dorong sanitasi dan pola hidup bersih. Saat ini, capaian Open Defecation Free (ODF) sudah 82 persen dan kami targetkan 100 persen di akhir tahun,” ungkapnya.

Dinas Kesehatan juga menggandeng Dinas PUPR serta memanfaatkan program CSR dari BRI, PLN, dan mitra swasta lainnya sebagai pendorong utama program.

Tabiun turut menyoroti keberhasilan Program Makanan Tambahan (PMT) lokal di kawasan Mantuil, yang berhasil menurunkan angka stunting pada lebih dari 100 anak.

“Ini bukti bahwa penanganan stunting tak bisa dilakukan sendiri. Semua sektor harus bergerak bersama,” tegasnya.

Secara nasional, pemerintah menargetkan prevalensi stunting di bawah 14 persen pada 2024. Namun, dengan capaian Banjarmasin saat ini, diperlukan langkah ekstra dan fokus pada akar permasalahan.

Beberapa faktor seperti kemiskinan, sanitasi buruk, dan rendahnya edukasi keluarga tentang pengasuhan anak menjadi tantangan utama yang harus dituntaskan Pemkot Banjarmasin secara menyeluruh.

Stunting bukan hanya soal kesehatan, tapi juga cerminan kesejahteraan keluarga dan masa depan anak. Untuk itu, Banjarmasin perlu beranjak dari strategi sektoral menuju kolaborasi konkret dan berkelanjutan lintas elemen

Visited 1 times, 1 visit(s) today