KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Banjarmasin menghadapi kendala pasokan bahan baku. Produksi sampah harian yang belum mencapai target membuat pemerintah kota harus mengandalkan suplai dari daerah sekitar.
Saat ini, volume sampah di Banjarmasin tercatat sekitar 491 ton per hari, masih di bawah kebutuhan minimal operasional PSEL sebesar 500 ton per hari.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, mengatakan kekurangan tersebut menjadi tantangan dalam percepatan proyek strategis nasional itu.
“Tanpa tambahan suplai sampah, target operasional PSEL sulit tercapai. Karena itu kami meminta dukungan kabupaten tetangga,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Untuk menutup kekurangan, Pemkot Banjarmasin menjajaki kerja sama dengan Kabupaten Banjar dan Barito Kuala sebagai pemasok tambahan sampah.
Selain persoalan pasokan, pemerintah kota juga tengah menyiapkan lokasi pembangunan fasilitas PSEL. Dua lokasi yang diusulkan yakni TPAS Basirih dan kawasan perbatasan Kabupaten Banjar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Ichrome Muftezar, menyebut kondisi geografis kota menjadi salah satu keunggulan dalam pengembangan proyek tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa keberlanjutan PSEL tetap bergantung pada kecukupan volume sampah.
Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah dari sumbernya. Sampah organik diarahkan untuk pengolahan kompos dan budidaya maggot, sedangkan PSEL difokuskan pada sampah non-organik.
Kondisi ini menunjukkan tantangan tersendiri, di mana upaya pengurangan sampah harus tetap berjalan seiring dengan kebutuhan pasokan untuk pembangkit energi.





