KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Bubur ayam Masjid Raya Sabilal Muhtadin sudah menjadi ikon kuliner Ramadan di Kota Banjarmasin. Setiap tahun, sajian khas di Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin Tengah ini selalu jadi penantian warga saat berbuka puasa.
Di balik kelezatan yang tak pernah berubah itu, ada tangan-tangan terampil yang bekerja sejak pagi. Salah satunya adalah Sidah (60), perempuan yang telah lama menjadi bagian dari dapur legendaris Bubur Sabilal. (MAKIN TAHU INDONESIA)
Resep Turun-Temurun Sejak Generasi H Sabah
Sidah bukanlah tangan pertama yang meracik Bubur Sabilal. Ia mengisahkan, ia mulai terlibat dalam pembuatan bubur ini sejak era H Sabah, yakni generasi kedua pengelola. Usaha menyiapkan menu berbuka ini memang warisan dari generasi ke generasi.
Dari sinilah kedekatan emosional antara pengurus Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan keluarga H Sabah terus terjalin hingga kini.
Resep Bubur Sabilal tidak pernah berganti. Cita rasa khasnya tetap dipertahankan sebagai patokan yang tidak boleh diubah. Juga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Sidah bersama sejumlah pekerja lainnya memproduksi Bubur Sabilal di RT 11, Jalan Antasan Kecil Timur. Selama Ramadan, aktivitas memasak berlangsung dari pukul 07.00 hingga 14.00 WITA.
“Diantar ke Masjid Sabilal setengah lima sore. Mulai dari sini dan di sana kami sendiri yang menyusun,” ujar Sidah.
Mereka bergelut dengan bumbu dan proses pemasakan menggunakan sembilan kawah besar setiap harinya. Proses pembuatan terbagi menjadi tiga bagian, masing-masing tiga kawah.
Seribu Porsi Per Hari, Lebih di Akhir Pekan
Dalam sehari, produksi Bubur Sabilal bisa mencapai seribu porsi. Namun pada hari-hari tertentu, jumlah itu sengaja ditambah.
“Kalau hari Kamis, malam Jumat, malam Sabtu, malam Minggu itu seribu seratus. Bisa lebih,” ungkapnya.
Untuk memenuhi target produksi tersebut, keluarga Ami menghabiskan ratusan butir telur dan puluhan ekor ayam setiap harinya. Bahan lainnya meliputi beras, daging, kentang, wortel, daun bawang, bawang merah, serta berbagai rempah basah dan kering.
Porsi produksi juga sengaja lebih. Sebab, sebagian Bubur Sabilal juga dibeli masyarakat untuk menu berbuka di masjid, langgar, maupun musala di sekitar Banjarmasin.





