Proyek SDN Pengambangan 5 Mangkrak, Disdik Banjarmasin Putus Kontrak dan Blacklist Kontraktor

oleh
oleh

KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB) di SDN Pengambangan 5, Kota Banjarmasin, terpaksa dihentikan oleh Dinas Pendidikan.

Tak hanya memutus kontrak, dinas juga memasukkan perusahaan pelaksana ke dalam daftar hitam (blacklist) lantaran progres pekerjaan dinilai jauh dari target.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, mengatakan sejak berjalannya proyek pada Agustus 2025 hingga akhir tahun. Capaian pembangunan RKB tersebut hanya mencapai sekitar 20 persen.

“Dari awal pekerjaan sampai evaluasi pertama, progresnya hanya 20 persen. Tambah lagi ada masalah internal penyedia, sehingga mereka tidak sanggup mengejar target pekerjaan,” ujar Ryan, Jumat (6/2/2026).

Padahal, sesuai perencanaan, pembangunan ruang kelas tersebut seharusnya telah rampung dan dapat berfungsi pada Desember 2025.

Karena keterlambatan tersebut, dinas akhirnya memutus kontrak kerja sama dengan pihak penyedia jasa.

Tak berhenti di situ, perusahaan pelaksana juga resmi masuk daftar hitam berdasarkan rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setelah adanya audit terhadap proyek tersebut.

“Penyedia kami blacklist sesuai rekomendasi BPK,” tegas Ryan.

Ryan memastikan, pembangunan RKB SDN Pengambangan 5 akan kembali bergulir pada tahun anggaran 2026. Setelah sebelumnya akan melewati proses lelang.

“Anggarannya akan kami ajukan kembali tahun ini,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak terdapat kerugian negara akibat mangkraknya proyek tersebut. Seluruh dana yang telah terkucurkan kepada penyedia telah kembali, serta jaminan pelaksanaan.

“Tidak ada kerugian bagi pemerintah. Ini murni kesalahan penyedia jasa,” ujarnya.

Sekolah Menanti Gedung Baru

Sementara itu, Kepala SDN Pengambangan 5 Banjarmasin, Wahyu Ekma Pranatalia, mengaku menyayangkan terhentinya pembangunan ruang kelas yang sudah lama mereka nantikan.

Ia menyebutkan, sekolahnya saat ini mengalami kekurangan ruang belajar cukup serius, dengan jumlah peserta didik hampir mencapai 400 siswa.

“Selama ini kami terpaksa memanfaatkan ruang perpustakaan dan bahkan ruang kepala sekolah sebagai ruang kelas sementara,” ungkap Wahyu.

Selain mengganggu proses belajar mengajar, proyek yang terbengkalai juga dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa. Pihak sekolah terpaksa menutup material bangunan yang tertinggal menggunakan atap seng.

“Kami tutupi agar tidak membahayakan anak-anak. Tapi dampaknya, drainase ikut tertutup dan sekolah menjadi rawan tergenang,” tuturnya.

Meski demikian, rencana kelanjutan pembangunan pada tahun ini menjadi harapan besar bagi pihak sekolah.

“Alhamdulillah kalau bisa dilanjutkan dan tidak jadi mangkrak. Kami benar-benar sangat membutuhkan ruang kelas baru,” pungkasnya. 

Visited 1 times, 1 visit(s) today