DPKP Kalsel Dorong Pengolahan Beras, Jagung, dan Singkong untuk Kesejahteraan Petani

oleh
oleh

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan (DPKP Kalsel) terus mendorong hilirisasi sektor pertanian melalui penguatan subsektor pascapanen dan pengolahan hasil tanaman pangan.

Langkah tersebut menjadi strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, sekaligus mendongkrak pendapatan petani di Kalimantan Selatan.

Kepala Seksi Pascapanen, Pengolahan dan Pemasaran Tanaman Pangan DPKP Kalsel, Darmadi, mengatakan arah kebijakan pengembangan tanaman pangan saat ini fokusnya pada pengolahan hasil sebagai bagian dari hilirisasi.

“Fokus kami memang pada pascapanen dan pengolahan. Hilirisasi itu arahnya ke pengolahan, agar produk tidak dijual dalam bentuk mentah, tetapi sudah memiliki nilai tambah,” ujar Darmadi mewakili Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman.

Ia menjelaskan, komoditas utama yang menjadi prioritas pengolahan meliputi beras, jagung, dan singkong. Namun, keterbatasan anggaran masih menjadi kendala sehingga pengembangan Unit Pengolahan Hasil (UPH) belum bisa berjalan secara masif.

Setiap tahun, DPKP Kalsel hanya mampu mengalokasikan sekitar tiga unit pengolahan hasil tanaman pangan. Fasilitas tersebut masih berskala sederhana, peruntukkannya bagi kelompok tani.

Sejumlah bantuan unit pengolahan jagung telah tersalurkan di Tanahlaut, Balangan, dan Tabalong. Jagung pipil olahannya menjadi butiran lebih kecil sebagai bahan baku pakan ternak sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dari jagung mentah.

Selain jagung, fasilitasi pengolahan singkong juga bagi kelompok tani di Tanahbumbu. Yakni olahan singkong menjadi beras analog atau dikenal dengan sebutan oyek.

Produk tersebut tergolong pangan fungsional dengan indeks glikemik lebih rendah, sehingga konsumsinya lebih baik bagi penderita diabetes.

“Pangan fungsional tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan. Ini peluang besar untuk dikembangkan,” ungkap Darmadi.

Tak hanya itu, UPH juga bisa memproduksi keripik singkong dan aneka olahan lainnya di Barito Kuala. Hingga saat ini, tiga komoditas utama yang menjadi lokus pengembangan hilirisasi tetap berfokus pada beras, jagung, dan singkong.

Salah satu produk beras merah lokal bahkan telah tersedia secara digital melalui platform Shopee, meskipun masih dalam skala terbatas. Hal ini lantaran kapasitas produksi petani yang relatif kecil, dengan rata-rata luas lahan sekitar tiga hektare.

“Dalam rangka meningkatkan daya saing, kami juga memberikan dukungan pengemasan, mulai dari desain hingga bantuan kemasan, termasuk pendampingan pemasaran,” tutupnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today