Tutupan Lahan Kalsel Meningkat Empat Tahun Terakhir, Pemprov Genjot Pengelolaan Emisi Gas Rumah Kaca dan Penanaman Berbasis REDD+

oleh
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fatimatuzzahra, saat memberikan keterangan. Foto : Kalselmaju.com/Zoya NH
Spread the love

KALSELMAJU.CON, BANJARBARU – Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan memfokuskan pengelolaan emisi gas rumah kaca dan pemulihan lahan kritis sebagai langkah strategis memperbaiki kualitas lingkungan di Banua.

Pengelolaan emisi gas rumah kaca melalui skema yang lebih terstruktur. Mulai dari administrasi, data safeguard hingga penyusunan dokumen proposal untuk akses pendanaan lingkungan.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fatimatuzzahra, mengatakan selama ini informasi mengenai skema emisi dan offset hanya kita peroleh secara parsial.

Dalam pembahasan bersama KLH, Kementerian Kehutanan, Warsi dan pakar ITB, kita mendapatkan pemahaman lebih komprehensif terkait skema yang dapat diterapkan,” ujar Aya sapaan akrab kadishut, saat rakor tata kelola hutan yang digelar di Gedung Idham Chalid Setdaprov Kalsel, Senin (24/11).

Aya juga mengatakan upaya menekan emisi tidak cukup hanya dengan penanaman pohon. Menurutnya ada komponen penting yang memberi dampak langsung. Kedua komponen iti adalah pengendalian perambahan kawasan hutan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Dua langkah ini sangat menentukan keberlanjutan tutupan lahan,” katanya.

Mengutip data Kementerian Kehutanan, tutupan hutan Kalsel mengalami peningkatan dalam empat tahun terakhir.

Pada 2020, luas tutupan hutan 904.436 hektare dan meningkat menjadi 945.352 hektare pada 2024. Jumlah ini belum termasuk tanaman usia 1-4 tahun. Aya mengklaim di lapangan, kondisinya jauh lebih baik.

Selain itu pada 27 November 2025, program penanaman dengan pendanaan REDD+ akan dilakukan di lahan Pemprov seluas 250 hektare. Tahap awal atau 100 hektare pertama akan mencakup dua zona tanaman MPTS (buah-buahan produktif), 30 hektare ulin, 20 hektare eucalyptus.

Karennya, Kalsel akan memiliki hamparan ulin dalam satu kawasan. Penanaman dilakukan oleh petani hutan, sementara pengelolaan sepenuhnya ditangani pemprov.

Tutupan hutan Kalsel sempat mengalami tren penurunan tajam. Pada 2013 tutupan hutan 640 ribu hektare, kemudian turun menjadi 511 ribu hektare pada 2018, dan menyusut lagi menjadi 458 ribu hektare pada 2022.

“Penurunan deforestasi dalam beberapa tahun terakhir merupakan hasil kolaborasi penanaman, pengendalian perambahan, dan pencegahan karhutla,” pungkas Aya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today