Kalsel Dorong Diversifikasi Pangan untuk Hadapi Lonjakan Harga Beras

oleh
oleh
Lonjakan harga beras yang terus terjadi menjadi sinyal penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). (Foto: Sairi/ Kalselmaju.com)
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Lonjakan harga beras yang terus terjadi di pasaran menjadi sinyal penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk memperkuat ketahanan pangan. Langkah ini berjalan melalui strategi diversifikasi pangan. Pemerintah daerah bersama pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat didorong berperan aktif. Mereka harus mengembangkan sumber pangan alternatif yang melimpah di Bumi Lambung Mangkurat.

Diversifikasi pangan bukan sekadar mengurangi ketergantungan pada beras. Ini juga mengoptimalkan potensi lokal seperti jagung, singkong, sagu, ubi jalar, dan hasil pangan laut.

“Tujuan dari pemerintah adalah memberikan pilihan kepada masyarakat. Kebutuhan pangan sehari-hari harus beragam,” ujar Ahli Gizi Puskesmas Binuang Kalsel, Dedy Hatta Permana.

Menurut Dedy, Kalsel yang kaya akan hasil pertanian dan perikanan memiliki peluang besar. Peluang ini dapat mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat menjadi lebih beragam dan bergizi. Kesuburan tanah dan melimpahnya perairan di Kalsel memungkinkan berbagai jenis pangan lokal menjadi alternatif. Hal ini terjadi ketika harga beras mahal.

“Sayuran apa sih yang tidak tumbuh di Kalsel,” tegas Tenaga Kesehatan Teladan 2025 ini.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah mengeluarkan program Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) dengan memanfaatkan pangan lokal. Program ini bertujuan agar masyarakat tidak bergantung hanya pada beras, tetapi juga memanfaatkan bahan pangan lain yang tersedia di daerah.

Bahkan, setiap Puskesmas di Kalsel mulai memperkenalkan berbagai olahan pangan lokal kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Edukasi ini untuk jangka panjang, agar membentuk pola pikir baru bahwa makan tidak harus selalu nasi.

“Masyarakat sedikit demi sedikit mulai mengubah kebiasaan yang kalau tidak makan nasi anggapannya belum makan,” ucap Dedy.

Alternatif Pangan Pengganti Beras

Dedy menambahkan, masyarakat Kalsel seharusnya mampu mencari alternatif pangan lokal sebagai pengganti makanan utama. Ini berlaku selain beras, terutama saat terjadi kelangkaan atau gagal panen. Hal ini penting untuk memastikan kebutuhan kalori harian tetap terpenuhi. Yakni sekitar 2.200 kalori untuk laki-laki dan 2.100 kalori untuk perempuan.

“Bukan hanya petani beras yang terbantu, tetapi petani lain juga ikut merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Gubernur Kalsel H. Muhidin menegaskan dukungan penuh terhadap penguatan ketahanan pangan daerah. Ia bahkan memberikan apresiasi langsung kepada sejumlah insan pertanian berprestasi. Apresiasi ini dalam rangka puncak peringatan Hari Jadi ke-75 Provinsi Kalsel pada Kamis (14/8/2025).

“Ini bukan hanya penghargaan, tapi bentuk pengakuan bahwa pertanian adalah tulang punggung ketahanan kita. Mari kita jaga dan kembangkan bersama,” kata Muhidin.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, menyampaikan bahwa Kalsel terus menunjukkan kemajuan signifikan dalam sektor pertanian. Bahkan, Kalsel menjadi satu-satunya provinsi yang tercatat surplus pangan nasional, termasuk pada komoditas jagung dan beras.

“Alhamdulillah semua berjalan baik di bawah kepemimpinan Pak Gubernur dan Wakil Gubernur. Termasuk dukungan Forkopimda, Polri dan TNI dalam menjaga ketahanan pangan,” ucap Syamsir.

Inovasi Pengendalian Inflasi Pangan

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalsel juga berperan aktif melalui beberapa inovasi di sektor pangan. Ini adalah bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program tersebut mencakup:

  • Gerakan Budidaya: Memanfaatkan model padi apung dan varietas baru seperti Padi Siam Madu.
  • Smart Greenhouse: Penggunaan teknologi sungkup untuk pembibitan dan pengendalian iklim lokal.
  • Hilirisasi Pangan: Pelatihan (capacity building) untuk kelompok tani dalam mengembangkan produk olahan dan pemasaran melalui marketplace.

Program ini juga mengenalkan pangan halal sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Bank Indonesia Kalsel mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tujuannya agar dapat memasarkan produknya di ajang Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Banua 2025 pada akhir Juli lalu.

“Produk pangan lokal seperti olahan ikan, kue khas Banjar, dan rempah-rempah menjadi primadona di FESyar. Beberapa bahkan sudah menembus pasar ekspor ke negara tetangga,” kata Kepala KPw BI Kalsel, Fadjar Majardi.

Menurut Fadjar, diversifikasi pangan halal tidak hanya menjadi strategi bisnis, tetapi juga instrumen pengendalian inflasi. Dengan memperbanyak jenis komoditas yang diproduksi dan dikonsumsi, risiko kelangkaan dan lonjakan harga pada satu jenis pangan bisa ditekan.

“Misalnya saat harga beras naik, masyarakat dapat diarahkan mengonsumsi sumber karbohidrat alternatif seperti jagung, sagu, atau umbi-umbian. Produk ini menyehatkan sekaligus punya potensi besar sebagai produk pangan halal bernilai tambah tinggi,” jelasnya.

Langkah Stabilisasi Harga

Ketidakstabilan harga pangan di Kalsel membuat sejumlah instansi bertindak. Termasuk Polda Kalsel dan Perum Bulog Kantor Wilayah Kalsel, yang menggelar pasar murah pada Kamis (14/8/2025). Pasar murah ini menjual beberapa bahan pokok dengan harga eceran tertinggi (HET), khususnya beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Dalam kegiatan itu, beras SPHP dijual seharga Rp56.509 per kemasan 5 kilogram atau Rp11.300 per kilogram. Harga ini lebih rendah dari HET wilayah Kalsel yang berada di Rp65.500 per 5 kilogram atau Rp13.100 per kilogram.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kalsel, Muhammad Akbar Said, mengatakan pasar murah ini digelar untuk menstabilkan harga beras. Ini juga untuk mengendalikan laju inflasi.

“Untuk pasokan beras di Kalsel saat ini dan beberapa bulan ke depan masih aman. Stok beras di gudang sekitar 30 ribu ton,” tegasnya.

Menuju Kemandirian Pangan

Dengan kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, aparat keamanan, pelaku usaha, hingga masyarakat—strategi diversifikasi pangan diharapkan menjadi gerakan bersama. Langkah ini bukan hanya solusi jangka pendek menghadapi harga beras mahal. Selain itu, ini juga strategi jangka panjang demi kemandirian pangan daerah.

Melalui pemanfaatan pangan lokal, inovasi teknologi, hilirisasi produk, dan edukasi kepada masyarakat, Kalsel berpeluang besar. Daerah ini bisa menjadi contoh yang mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal.

Visited 1 times, 1 visit(s) today