KALSELMAJU.COM, PELAIHARI – Di sudut pesisir Kalimantan Selatan, tepatnya di Desa Takisung, Kabupaten Tanah Laut, tumbuh sebuah kisah inspiratif dari dapur sederhana yang kini menjadi ikon kuliner daerah: Amplang Omega.
Didirikan oleh Mugni pada 2013, usaha ini bermula dari modal terbatas—hanya 5 kilogram ikan segar. Namun, dengan tekad dan semangat pantang menyerah, Mugni menembus berbagai tantangan, hingga produknya kini dikenal luas, bahkan merambah pasar Pulau Jawa dan Sulawesi.
“Dulu cuma usaha sampingan. Tapi karena permintaan terus meningkat, sejak 2017 saya mulai fokus,” ungkap Mugni.
Omega: Bukan Sekadar Nama
Awalnya bernama Amplang Takisung, Mugni kemudian mengganti nama produknya menjadi Omega—terinspirasi dari kandungan omega-3 pada ikan tenggiri. Pemilihan nama ini bukan hanya untuk menonjolkan kualitas, tetapi juga sebagai identitas brand yang kuat, sehat, dan mudah mengingatnya.
Omega mencerminkan filosofi bisnisnya: menghadirkan camilan sehat, lezat, dan bernilai dari kekayaan laut Tanah Laut untuk seluruh Indonesia.
Amplang Omega terbuat dari ikan tenggiri segar pilihan, pengolahannya pun secara higienis dengan komposisi 7 ons daging murni per kilogram bahan. Berpadu dengan tepung kanji berkualitas, amplang ini hadir dalam tiga varian rasa favorit: original, pedas, dan balado.
Pilihan kemasan & harga:
- Rp4.000 (kemasan 45g)
- Rp8.000 (kemasan 75g)
- Rp120.000 (kemasan 1 kg)
Dengan legalitas lengkap—izin BOPM dan P-IRT—Amplang Omega telah menembus pasar oleh-oleh lokal, Dekranasda, hingga konsumen di luar pulau.
Tantangan Tak Menghalangi Langkah
Produksi masih dilakukan secara manual, dengan tantangan utama berupa kelangkaan gas dan pasokan ikan yang tak menentu karena kondisi cuaca laut. Namun, keterbatasan ini tidak menyurutkan langkah Mugni.
“Permintaan banyak, tapi tenaga manusia ada batasnya. Kami harap ada bantuan mesin produksi dari pemerintah,” harapnya.
Amplang Omega bukan sekadar camilan khas pesisir, tetapi simbol kegigihan dan inovasi pelaku UMKM lokal. Dari dapur kecil di Takisung, Mugni dan timnya membuktikan bahwa produk rumahan pun mampu bersaing di pasar nasional—bahkan berpotensi ekspor.





