Buaya Penyerang di Desa Batakan Ditangkap Warga, BKSDA Imbau Tetap Waspada

oleh
oleh
Buaya
Buaya Penyerang di Desa Batakan Ditangkap Warga. (Foto warga)
Spread the love

KALSELMAJU.COM, PELAIHARI – Warga Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut, berhasil menangkap seekor buaya pada Senin malam (28/4), sehari setelah insiden penyerangan tragis oleh buaya terhadap seorang warga setempat, Minggu (27/4). Kemudian warga menguburkan Buaya tersebut secara mandiri di kawasan Batakan Baru.

Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Agus Irwan, membenarkan informasi penangkapan buaya tersebut.

“Awalnya kami tahu dari media sosial. Setelah dikonfirmasi ke petugas kami di Resort Batakan, ternyata benar buaya itu ditangkap warga dan langsung dikuburkan,” ujar Agus, Rabu (1/5).

Namun, Agus menegaskan bahwa buaya tersebut bukanlah hasil dari operasi resmi BKSDA. Saat kejadian, kandang jebak satu-satunya milik BKSDA Wilayah I sedang ada di Batulicin untuk penanganan kasus serupa, sehingga tidak tersedia di lokasi.

“Kandang jebak kami satu-satunya, dan Senin pagi sudah kami geser ke Tanah Bumbu. Jadi, kami tidak tahu pasti bagaimana proses penangkapannya,” jelasnya.

Buaya yang tertangkap sudah dalam kondisi mati. Agus memahami bahwa kepanikan warga mungkin menjadi pemicu tindakan tersebut. Namun, ia mempertanyakan apakah buaya itu benar pelaku penyerangan.

“Kita tidak tahu pasti. Mungkin masyarakat merasa terancam dan bertindak spontan. Tapi itu tetap menjadi catatan penting, apakah buaya yang ditangkap itu pelakunya atau bukan,” imbuhnya.

Agus menambahkan, hingga kini belum ada laporan baru terkait serangan buaya terhadap warga maupun hewan peliharaan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa wilayah Batakan dan Sanipah merupakan habitat alami buaya, sehingga tetap perlu kewaspadaan. Terutama jika satwa merasa terganggu.

BKSDA Dorong Ketersediaan Alat Tangkap

Terkait penanganan konflik satwa, BKSDA telah menjalin koordinasi dengan pihak Kecamatan Panyipatan untuk mendorong ketersediaan alat tangkap di daerah rawan konflik.

“Kami sudah sampaikan ke Pak Camat, harapannya Batakan bisa memiliki kandang jebak sendiri, bahkan lebih dari satu. Jadi, penanganan bisa cepat tanpa harus menunggu kiriman alat dari Banjarbaru,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, BKSDA juga telah menyerahkan desain teknis kandang jebak kepada pemerintah kecamatan. Agus menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam pengadaan sarana penanganan konflik manusia dan satwa liar.

“Kami tetap bertanggung jawab dan siap turun tangan jika ada laporan, tapi tentu saja kami sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah untuk kelengkapan sarana di lapangan,” tutupnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today