Lemahnya Pengawasan, Truk ODOL Masih Bebas Melintas di Banjarmasin

oleh
oleh
Aturan
Sebuah truk penuh muatan tidak kuat menanjak saat menaiki jembatan RK Ilir Banjarmasin. (Foto:@info_kejadian_banjarmasin)
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Lemahnya pengawasan pihak terkait. Truk bermuatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL) yang masih bebas melintas di sejumlah ruas jalan di Banjarmasin kembali menuai sorotan. Sebuah truk penuh muatan tidak kuat menanjak saat melintasi jembatan RK Ilir Banjarmasin. Videonya viral tersebar di media sosial, Selasa (22/04/2025).

Pengamat tata kota Akbar Rahman menilai lemahnya penegakan regulasi transportasi menjadi akar persoalan. Hal ini berdampak langsung pada keselamatan pengguna jalan dan kerusakan infrastruktur kota.

“Truk-truk ODOL ini seharusnya dicegat sejak awal. Melalui sistem timbang otomatis atau weigh-in-motion di titik-titik strategis seperti pelabuhan dan kawasan pergudangan,” kata Akbar, Kamis (24/4/2025).

Perlu Pengawasan dan Sanksi Tegas bagi Pelanggar

Akbar menyebut perlunya sanksi progresif terhadap pelanggar berulang. Juga, pengawasan berbasis data insiden lalu lintas yang terintegrasi antara Dinas Perhubungan dan Satuan Lalu Lintas (Satlantas).

Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kelalaian sistematis dalam pengelolaan transportasi berat.

Ia juga menyoroti titik-titik rawan kecelakaan seperti di Jembatan Pekauman, Jalan Merdeka, dan kawasan Kayu Tangi.

“Tikungan tajam setelah turunan jembatan dengan kemiringan curam dan radius yang tidak sesuai standar sangat berbahaya. Terutama jika truk mengalami rem blong,” jelasnya.

Akbar mendorong adanya audit keselamatan jalan secara berkala untuk menyesuaikan desain geometri dengan kondisi nyata di lapangan.

Ia menyatakan bahwa solusi jangka panjang harus mencakup revisi desain, kontrol ketat muatan, serta peningkatan teknologi pengawasan lalu lintas.

“Dishub seharusnya rutin melakukan inspeksi kendaraan berat, menerapkan kebijakan window time untuk pembatasan jam operasional truk, dan aktif berkoordinasi dengan Satlantas serta pemerintah provinsi,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa fungsi lampu lalu lintas di kawasan Jembatan Pekauman belum responsif terhadap karakteristik jalan dan lalu lintas kendaraan berat.

“Perlu sistem sinyal adaptif berbasis kecerdasan buatan atau minimal ATCS (Area Traffic Control System). Dengan ini, pengaturan lalu lintas bisa lebih dinamis dan aman,” kata Akbar.

Sebagai bentuk pengendalian di zona rawan, ia menyarankan pemasangan rambu kecepatan, rumble strip, escape lane, dan kamera pemantau. Serta, penerapan SOP yang ketat.

Ia menambahkan keselamatan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga komitmen bersama dalam menegakkan aturan.

“Regulasi tanpa pengawasan yang kuat hanya akan menjadi macan kertas,” pungkasnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today