Tradisi Kain Pamintaan, Dipercaya untuk Pengobatan Pingitan, Mengenal Lebih Dekat WBTB Asal Baritokuala

oleh
Contoh kain Pamintaan untuk laki-laki, WBTB asal Kabupaten Baritokukala. Foto : Disdikbud Kalsel
Spread the love

Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mempunyai banyak sekali aktifitas kearifan lokal. Yang tersebar di 13 kabupaten kota. Kali ini kita akan mengenal lebih dekat sebuah Tradisi Kain Pamintaan. Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asal Kabupaten Baritokuala (Batola).

Mengutip data dari Ensiklopidia Budaya Banua milik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Kain pamintan merupakan kain yang berwarna kuning bermotifkan sasirangan. Bagi masyarakat pengidap penyakit pingitan mempercayai pengobatan dengan menggunakan kain pamintan.

Ketika merasakan sakit kepala atau gejala-gejala aneh maka mereka langsung pergi ke penamba. Ketika orang yang kena penyakit pingitan datang ke tempat penamba, penamba inilah yang mengarahkan bagaimana proses-proses dalam melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan.
Kain pamintan ini ada dua jenis, yaitu untuk perempuan dan untuk laki-laki. Yang membedakan jenis ini adalah motifnya. Pertama untuk laki-laki, jenis kain pamintan bermotifkan sasirangan, namun di tengahnya ada warna merah persegi empat. Adapun untuk perempuan jenis kain pamintan ini berbeda dengan jenis kain pamintan laki-laki.

Untuk perempuan tidak ada warna merah persegi empat ditengahnya hanya saja kain warna kuning bermotifkan sasirangan.
Adapun sebelum menggunakan kain pamintan, harus menyediakan sasaji berupa makanan seperti singkaruk, pisang, tapai dan nasi ketan serta dua telur rebus dimaksudkan agar penyakit pingitan tidak kembali lagi.

Adapun cara menggunakan kain pamintan dengan cara dililitkan dikepala atau di ikat dikepala, dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah dan bisa juga dililitkan diperut dimaksudkan sarana untuk menyembuhkan penyakit diare dan jenis penyakit perut lainnya.

Menggunakan Tepung Tawar


Berikut adalah skema cara pengobatan menggunakan kain pamintan. Perlu menyiapkan beberapa hal bagi warga. Cara pengobatan menggunakan kain pamintan ialah menyiapkan makanan berupa sasaji, singkaruk, nasi ketan, telur rebus dan pisang. Selanjutnya menyiapakan tapung tawar yang terdiri dari daun pisang dan air.


Begitu semuanya telah siap maka pertama adalah menyiapkan kain pamintan. Serta kain pamintan tersebut sudah siap selanjutnya pemberiaan tapung tawar dan makanan yang sudah siap ditaruh di samping. Setelah semuanya sudah siap kemudian membaca basmalah, selanjutnya dengan surah al-fatihah dan sholawat.

Setelah pemberiaan tapung tawar pada kain pamintan maka bisa langsung memakainya atau mengenakannya untuk penutup kepala bagi perempuan. Pakaian saat melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan adalah pakaian yang biasa untuk sehari hari. Artinya, tidak ada pakaian khusus untuk melakukan pengobatan menggunakan kain pamintan. Pelaksanaannya setelah shalat dzhur atau sudah siang hari melakukan untuk pengobatan menggunakan kain pamintan.

Dalam memakai kain pamintan, ada cara-caranya bagi perempuan dan laki-laki. Untuk perempuan memakai kain pamintan letaknya di atas kepala seperti memakai kerudung. Sedangkan untuk laki-laki menggunakannya di atas kepala seperti memakai laung lipat segitiga sehingga motif yang warna merahnya terlihat.
Cara- cara tersebut guna membedakan laki-laki dan perempuan dalam cara pemakaian. Karena motif kain pamintan ini juga berbeda untuk laki laki dan perempuan Sehingga cara pemakaianya pun juga berbeda.
Sebelum melakukan proses pemakaian kain pamintan haru menyiapkan hal tertentu serta bahan bahan makanan. Seperti singkaruk, nasi ketan, telur rebus dan tapai. semua bahan makanan tersebut masuk ke dalam wadah nampan.
Selanjutnya menyiapkan seperti gelas yang sudah terisi air yang dicampur minyak wangi serta daun pisang. Setalah semuanya siap maka hal pertama adalah memberi tapung tawar pada kain pamintan sebelum penggunaan. Cara menapung tawarnya pun harus dengan doa- doa. Begitulah proses pengobatan menggunakan Kain Pamintaan, salah satu WBTB asal Baritokuala.

Upaya Pelestarian

  1. Pelindungan: Pelindungan Tradisi Kain Pamintan dmelalui inventarisasi, pendataan, dan dokumentasi sejarah, asal-usul, fungsi, makna, bahan, alat, motif, serta teknik pembuatan kain. Upaya ini juga mencakup identifikasi pelaku budaya dan pengrajin, dokumentasi proses pembuatan, serta pewarisan pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda.
  2. Pengembangan: Pengembangan melalui dokumentasi teknik pembuatan dan motif, inovasi desain serta produk berbasis Kain Pamintan, dan pengembangan media edukasi serta publikasi digital. Pengembangan tetap mempertahankan identitas, nilai budaya, dan karakteristik tradisional kain melalui kolaborasi antara pengrajin, pelaku budaya, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah.
  3. Pemanfaatan: Kain Pamintan dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan budaya melalui pameran, festival, kegiatan edukasi, dan publikasi. Pemanfaatan juga dapat mendukung penguatan ekonomi kreatif masyarakat melalui produk berbasis Kain Pamintan, dengan tetap memperhatikan fungsi, makna tradisional, dan manfaat bagi pengrajin serta masyarakat pendukungnya.
  4. Pembinaan: Pembinaan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan pewarisan pengetahuan serta keterampilan pembuatan Kain Pamintan kepada generasi muda. Kegiatan melibatkan pengrajin senior, maestro, guru budaya, komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas pelaku serta menjaga keberlanjutan Tradisi Kain Pamintan sebagai warisan budaya masyarakat.
Visited 1 times, 1 visit(s) today