KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Ketua Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kalimantan Selatan, Donny Wirawan Achdiyat, angkat bicara terkait kisruh yang menimpa atlet Kelas Khusus Olahraga (KKO) SMAN 2 Banjarmasin.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak akan membesar apabila komunikasi antara pihak sekolah dan pembina atlet berjalan dengan baik.
“Kalau ada komunikasi, pasti tidak ada miskomunikasi. Kisruh seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi,” tegas Donny, Rabu (22/7/2026).
Donny menjelaskan, keberadaan KKO sebagai wadah bagi atlet berprestasi agar tetap dapat menempuh pendidikan tanpa harus mengorbankan pembinaan olahraga. Karena itu, sistem pembelajaran di KKO tidak sama dengan siswa reguler.
“KKO itu untuk atlet berprestasi. Ada fleksibilitas dalam kurikulum dan pembelajaran. Atlet tidak bisa sama dengan pelajar reguler,” ujarnya.
Menurut Donny, fleksibilitas tersebut telah memiliki dasar hukum yang jelas, baik melalui Undang-Undang Keolahragaan maupun kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
Ia mencontohkan, beban tugas akademik bagi atlet semestinya menyesuaikan dengan aktivitas latihan dan pertandingan yang mereka jalani.
“Misalnya ada 10 tugas, kalau atlet bisa menyelesaikan lima saja itu sudah bagus. Karena memang ada payung hukum yang mengatur pembinaan atlet pelajar,” katanya.
Donny mengungkapkan, pihak sekolah sebenarnya pernah berkomunikasi dengannya pada April 2026.
Saat itu ia meminta agar setiap perkembangan akademik atlet, khususnya terkait tugas yang belum diselesaikan, selalu dikoordinasikan dengan pengurus maupun pelatih.
“Saya sudah minta kepada pihak sekolah, kalau ada atlet kami yang belum mengerjakan tugas, tolong hubungi kami. Sebelum finalisasi kenaikan kelas seharusnya kami diberi tahu tugas apa saja yang belum selesai, sehingga bisa kami bantu selesaikan. Dengan begitu, prestasi olahraga dan pendidikan bisa berjalan selaras,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi atlet bukan perkara mudah. Para atlet harus mengorbankan masa remaja demi mengharumkan nama daerah hingga negara.
Siswa KKO SMAN 2 Ikuti Pelatnas
Bahkan lanjutnya, tidak sedikit atlet di SMA Negeri 2 Banjarmasin saat ini tengah mengikuti Pelatihan Nasional (Pelatnas).
“Mereka mengorbankan waktu remaja untuk latihan dan membawa nama daerah. Ada yang masuk Pelatnas juga. Karena itu KKO hadir agar mereka tetap bisa sekolah tanpa mengorbankan prestasi,” ujarnya.
Donny menduga persoalan yang terjadi dipicu belum adanya pemahaman yang sama mengenai konsep KKO. Menurutnya, sekolah perlu memperbarui pemahaman terkait kebijakan pembinaan atlet dan melibatkan praktisi olahraga dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut atlet.
“Mungkin belum ada pembaruan pemahaman dari pihak sekolah dan belum melibatkan praktisi olahraga. Padahal atlet kami baru saja mengharumkan nama daerah dengan meraih medali perunggu pada PON 2025. Prestasi seperti ini semestinya menjadi perhatian bersama,” akhirnya.





