Riset: Intervensi Nutrisi Berpotensi Cegah 1,6 Juta Kasus Stunting dan Hemat Biaya Kesehatan Rp12 Triliun

oleh
oleh
Spread the love

KALSELMAJU.COM, JAKARTA – Penelitian terbaru mengungkap intervensi nutrisi bagi anak dengan masalah gizi berpotensi mencegah jutaan kasus stunting di Indonesia sekaligus menghemat biaya kesehatan nasional hingga lebih dari Rp12 triliun.

Temuan tersebut dipaparkan dalam studi berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy. Pada presentasi ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.

Ketua Pharmacoepidemiology Research Group Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Muh. Akbar Bahar, menjelaskan hasil evaluasi dampak kesehatan dan ekonomi. Dari pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) kepada anak-anak yang mengalami malnutrisi.

“Hasil analisis menunjukkan intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting 72,7 persen, dan underweight 51,7 persen,” ujarnya.

Menurut Akbar, jika oenerapannya secara luas, intervensi tersebut perkiraan akan mampu mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting. Juga pada 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak di Indonesia.

Penelitian itu juga menunjukkan perbaikan status gizi dapat menurunkan risiko berbagai penyakit infeksi yang selama ini menjadi beban kesehatan masyarakat.

Berdasarkan model penelitian, kasus tuberkulosis (TB) berpotensi turun hingga 47,2 persen dan pneumonia 44,7 persen. Secara nasional, angka tersebut setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan satu juta kasus pneumonia.

Pengurangan Pada Kasus ISPA

Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Perkiraan juga dapat berkurang masing-masing sekitar 2,6 juta kasus dan dua juta kasus.

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaatnya tidak hanya meningkatkan berat dan tinggi badan, tetapi juga menurunkan risiko infeksi, mengurangi kebutuhan pengobatan, dan meningkatkan kualitas hidup,” kata Akbar.

Ia menilai intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan jangka panjang karena memberikan manfaat sosial dan ekonomi secara bersamaan.

Dari sisi ekonomi, studi tersebut memperkirakan penghematan biaya pengobatan mencapai Rp2,46 triliun untuk kasus TB, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare.

Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan hasil penelitian tersebut menjadi bukti bahwa intervensi gizi yang tepat dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan anak sekaligus efisiensi biaya kesehatan.

“Intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan,” ujarnya.

Menurut Ray, bukti ilmiah semacam itu penting untuk mendorong kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang.

Di tengah masih tingginya angka stunting nasional, termasuk di Kalimantan Selatan yang berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Tercatat sebesar 22,9 persen, inovasi nutrisi dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat penanganan masalah gizi anak.

Ray menambahkan Indonesia telah memiliki produk PKMK di dalam negeri untuk membantu mendukung pertumbuhan anak yang mengalami masalah gizi.

“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today