Menengok Makam Datu Bagul di Tungkaran Banjar, Ulama asal Persia Guru Datu Kalampayan

oleh
Kubah Datu Bagul di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, sering mendapat kunjungan peziarah. Foto : Kalselmaju.com/Zoya NH
Spread the love

KALSELMAJU.COM, MARTAPURA – Makam Syekh Aminullah atau Datu Bagul berada di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar,tak pernah sepi dari peziarah. Sosok ulama yang memiliki jejak panjang dalam penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.

Sejak 2015, penjaga makam ini Abdussamad. Yang setia merawat sekaligus menyambut para peziarah yang datang, baik siang maupun malam.

Andussamad menyebut, kunjungan biasanya meningkat saat akhir pekan hingga hari-hari besar keagamaan seperti Idulfitri.

Riwayat Datu Bagul sendiri banyak berdasarkan cerita dari almarhum KH Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul. Yang menemukan kembali makam tersebut pada 1981 silam.

Sebelum ditemukan, kawasan itu sebagai wilayah yang dulunya memiliki pelabuhan dan hutan serta untuk aktivitas berburu Guru Sekumpul sendiri.

Menurut penuturan yang berkembang di masyarakat, Abdussamad bilang bahwa Syekh Aminullah merupakan salah satu guru dari Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau tenar dengan sebutan Datu Kelampayan.

Datu Bagul Sudah di Martapura Saat Datu Kalampayan Usia 5 Tahun

Saat Datu Kelampayan masih berusia lima tahun, Datu Bagul sudah lebih dahulu berada di Martapura. Ketika Datu Kelampayan berusia 35 tahun dan berada di Makkah, Datu Bagul wafat.

“Dari cerita Abah Guru Sekumpul, beliau (Datu Aminullah) berasal dari Persia dan datang ke tanah Banjar atas undangan Kerajaan Banjar untuk menyebarkan ajaran Islam,” jelas Abdussamad.

Ia sempat dapat tawaran menikah dengan putri kerajaan, namun menolaknya secara halus. Pilihan hidupnya lebih condong pada kehidupan spiritual, dengan berkhalwat di sebuah pondok di kawasan hutan Tungkaran.

Di tempat itulah beliau menghabiskan masa hidup hingga wafat, lalu bermakam di sekitar pondok tersebut.

Ciri fisiknya tinggi besar, hidung mancung dengan janggut kemerahan turut menjadi bagian dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

Tak jauh dari makam, terdapat musala yang telah berdiri sejak masa muda Guru Sekumpul.

Keberadaan fasilitas ini turut mendukung aktivitas ibadah para peziarah yang datang untuk berdoa dan mengenang perjuangan ulama terdahulu.

Makam Datu Bagul bukan hanya menjadi situs religi, tetapi juga simbol sejarah penyebaran Islam di Banjar yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Visited 1 times, 1 visit(s) today