KALSELMAJU.COM, PELAIHARI – Pemerintah Kabupaten Tanahlaut menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga 17,5 persen pada tahun 2026. Angka stunting di Tanahlaut masih berada pada level 22,5 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.
Ketiadaan data pembanding pada 2025 membuat pemerintah daerah harus mengakselerasi berbagai program intervensi. Dengan demikian, penurunan signifikan dapat tercapai pada survei kesehatan berikutnya.
Kepala Dinas Kesehatan Tanahlaut, dr. Isna Farida, M.Kes, mengatakan upaya percepatan penurunan stunting berlaku melalui aksi konvergensi lintas sektor. Hal ini melibatkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
“Pencegahan dan penurunan stunting dilaksanakan melalui aksi konvergensi sesuai pedoman teknis, dengan melibatkan SKPD yang tergabung dalam TPPS,” ujar dr. Isna, Sabtu (23/1/2026).
Intervensi meliputi layanan spesifik bagi ibu hamil dan balita, seperti pemantauan kesehatan dan pemberian suplemen. Selain itu, intervensi sensitif melalui perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan bantuan pangan bergizi.
Namun demikian, dr. Isna mengakui masih terdapat kendala di lapangan. Salah satu faktor utama adalah tingginya angka ibu hamil yang mengalami anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Hal ini berdampak pada meningkatnya kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Selain faktor medis, tantangan lain adalah memastikan bantuan gizi benar-benar dikonsumsi oleh sasaran. Untuk itu, pemerintah daerah memperkuat peran petugas lapangan. Petugas memantau kepatuhan konsumsi Pemberian Makanan Tambahan (PMT), suplemen, serta kecukupan gizi MPASI di tingkat keluarga.
“Tantangan terbesar adalah memastikan PMT dan suplemen dikonsumsi, bukan hanya diterima. Ini membutuhkan komitmen keluarga agar lebih sadar pentingnya keragaman gizi bagi balita,” tegasnya.
Dengan percepatan intervensi yang terintegrasi dan pengawasan berkelanjutan, Pemkab Tanahlaut optimistis target penurunan stunting dapat dicapai. Hal ini bertujuan demi meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.





