KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Banjarmasin masuk dalam daftar 10 kota dengan biaya transportasi termahal di Indonesia. Banjarmasin saat ini menempati peringkat ke-9, dengan pengeluaran transportasi masyarakat mencapai Rp852 ribu per bulan—setara 11,09 persen dari total biaya hidup.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin, Slamet Begjo, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama tingginya biaya transportasi adalah belum terintegrasinya sistem angkutan umum yang ada.
“Sistem angkutan kita belum terkoneksi, belum terintegrasi, dan pembayarannya pun masih dilakukan secara terpisah,” jelas Slamet, Senin (11/8).
Ia mencontohkan, penumpang yang ingin bepergian dari kawasan Jalan Brigjen H. Hasan Basri (Kayu Tangi) ke Terminal Km 6 harus transit lebih dulu di Terminal Pasar Sentra Antasari.
Hal ini membuat penumpang harus membayar dua kali satu kali untuk angkutan ke terminal, dan sekali lagi untuk melanjutkan ke tujuan akhir.
“Ketika berganti angkutan, penumpang harus bayar lagi. Inilah yang membuat transportasi kita terasa mahal dan tidak efisien,” kata ia.
Dishub Kota Banjarmasin kini tengah menjalin koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk merancang sistem transportasi terintegrasi, mulai dari rute hingga sistem pembayaran.
“Jika ke depan sistem pembayaran bisa disatukan, masyarakat cukup membayar satu kali untuk satu perjalanan, meskipun harus berganti armada. Ini tentu akan memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi,” ujar Slamet optimis.
Saat ini, Banjarmasin memiliki empat koridor utama angkutan umum, yaitu:
- Terminal Pasar Sentra Antasari – Terminal Km 6
- Terminal Pasar Sentra Antasari – Halte RSUD Ansari Saleh
- Halte Teluk Tiram – Halte Sungai Andai
- Terminal Pasar Sentra Antasari – Halte Mantuil
Namun dari total 17 unit armada yang tersedia, tidak semuanya dalam kondisi operasional.
Beberapa kendaraan mengalami kerusakan akibat usia dan pemakaian terus-menerus. Slamet menyebut, saat ini hanya lebih dari 10 unit yang aktif beroperasi.
Dinas Perhubungan menargetkan akan menambah jumlah koridor dan memperluas jangkauan layanan angkutan umum ke depannya. Tujuannya adalah menciptakan sistem transportasi yang terintegrasi, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat.
“Minat masyarakat terhadap angkutan umum saat ini masih rendah. Karena itu, kami terus melakukan sosialisasi dan peningkatan layanan agar transportasi publik bisa menjadi pilihan utama warga,” tutup Slamet.





