KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Penantian Stefanus untuk membawa pulang tiga anggota keluarganya yang hilang dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 belum berakhir. Selama 53 hari, ia masih berharap jasad keluarganya ketemu agar bisa membawanya ke Flores dan dimakamkan sesuai upacara adat.
Harapan itu kini menghadapi ketidakpastian setelah Basarnas menutup operasi pencarian dan pertolongan (SAR) KM Virgo Transport 8 pada Rabu (4/11/2026). Keputusan tersebut menyisakan kekecewaan bagi Stefanus dan keluarga korban lainnya yang belum mengetahui nasib anggota keluarga mereka.
Stefanus mengatakan keluarga sebenarnya berharap evaluasi operasi menghasilkan langkah yang lebih baik. Namun, keputusan penutupan justru menambah kesedihan mereka.
“Kami keluarga ini sebenarnya berharap evaluasi untuk lebih baik. Tapi ternyata betapa tambah sedihnya kami mendengar kata penutupan ini,” ungkap Stefanus seusai pertemuan dengan Basarnas di Banjarmasin.
Menurutnya, keluarga tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga yang hilang. Karena itu, pengangkatan bangkai kapal atau salvage menjadi harapan utama yang ingin segera terealisasi.
“Bagi kami, setelah kapal itu terangkat, sekalipun dalam kapal itu nanti tidak ada keluarga kami, kami ikhlas. Tapi proses pengangkatan itu yang paling penting,” ujarnya.
Meski menutup operasi SAR, Basarnas menyatakan tetap melakukan pemantauan. Operasi pencarian kembali berjalan apabila proses pengangkatan bangkai kapal terlaksana. Pencarian lanjutan nantinya dapat fokus untuk menemukan dan mengevakuasi korban yang kemungkinan masih berada di dalam kapal.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan terbalik di perairan Masalembo pada 13 September 2026. Berdasarkan data terakhir Basarnas, kapal tersebut mengangkut 243 penumpang sesuai manifes.
Dari jumlah itu, 108 orang selamat, 82 korban meninggal dunia, sedangkan 53 lainnya masih belum ada kabar.





