Dua Pekan Sudah Berjalan, Ratusan Kilogram Daun Kering Kini Diproses jadi Pupuk Kompos di TH2TI Banjarbaru

oleh
Proses pencacahan daun kering yang diproses dan akan menghasilkan pupuk kompos. Foto : Kalselmaju.com/Zoya NH
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Dinas Kehutanan Kalsel berhasil mengolah ratusan kilogram daun gugur saban pekan menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan. Mendukung penghijauan sekaligus menekan biaya operasional pengadaan pupuk.

Program ini telah berjalan sekitar dua pekan dan menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Dalam seminggu, petugas mampu mengumpulkan sekitar 400 kilogram daun kering. perhitungan satu bulan jumlahnya mencapai sekitar 1,4 ton bahan baku.

Dalam pengolahan daun dan ranting kering masuk ke dalam alat pencacah. Alat tersebut sebelumnya berada di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tanahlaut. Kini berada di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) untuk mendukung produksi pupuk organik.

Setelah masuk alat pencacah, daun atau kayu kering harus dijemur tersebut dahulu. Kemudian mencampurnya dengan kotoran sapi dan EM4 dan molase. Selanjutnya masuk ke dalam alat yang tertutup rapat.

Setelah melalui proses, limbah daun tersebut dapat menghasilkan sekitar 700 kilogram kompos. Dengan tingkat rendemen sekitar 70 persen, produksi kompos mencapai hampir satu ton setiap bulan.

Pemanfaatan Kompos Dukung Tanaman RHL

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hj. Fathimatuzzahra, mengatakan pemfaatan kompos untuk mendukung pertumbuhan tanaman rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). “Termasuk berbagai tanaman yang berada di lingkungan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia ini,” kata Aya –sapaan karib kadishut, Jumat (24/4/2026).

Langkah ini bisa sangat efektif karena selain menjaga kebersihan lingkungan, juga mengembalikan unsur hara ke tanah secara alami. “Dari alam kembali ke alam,” timpalnya.

Selain memberikan manfaat ekologis, program ini juga berdampak pada efisiensi anggaran. Penggunaan kompos hasil produksi sendiri secara otomatis mengurangi kebutuhan pembelian pupuk kimia maupun pupuk kandang dari luar.

Pengelolaan kompos tersebut oleh koperasi internal dinas kehutanan, sehingga menciptakan siklus pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan.

Adapun konsepnya adalah dari “alam kembali ke alam” yakni memanfaatkan limbah organik untuk mendukung keberlanjutan ekosistem.

Ke depan, produksi kompos ini tidak hanya memanfaatkan daun dari lingkungan kantor dan taman hutan, tetapi juga dari kawasan perkantoran lain di sekitarnya.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, langkah ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Nantinya, kami akan mengurus perizinan edar agar kompos dapat termanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat, sekaligus menjadi contoh praktik pengelolaan sampah organik yang edukatif dan ramah lingkungan,” tukas Aya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today