KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Peningkatan fungsi Embung Gunung Kupang yang rampung pada akhir 2025 mulai menunjukkan dampak nyata terhadap pengendalian banjir di wilayah Cempaka dan sekitarnya.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Dinas PUPR Banjarbaru mencatat, embung tersebut mampu mereduksi banjir sekitar 25 persen. Khususnya di kawasan Kertak Baru dan Cempaka.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Banjarbaru, Deny Pramudji, mengatakan Embung Gunung Kupang menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem pengendalian banjir di wilayah tersebut.
“Berdasarkan hasil kajian kami, embung ini mampu mereduksi banjir sekitar 25 persen di wilayah Kertak Baru dan Cempaka,” ujar Deny, mewakili Kepala Dinas PUPR Banjarbaru, Eka Yuliesda.
Dari sisi kapasitas, embung tersebut perkiraannya mampu menampung air lebih dari 200 hingga 300 meter kubik. Volume tampungan itu berfungsi sebagai penahan sementara limpasan air sebelum mengalir ke hilir, termasuk menuju aliran Sungai Kuranji.
Hasil evaluasi selama satu tahun terakhir menunjukkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya tinggi genangan di kawasan Kertak Baru dapat mencapai sepinggang orang dewasa dengan durasi cukup lama, kini ketinggian air rata-rata berada di kisaran 50 sentimeter. Selain itu, air surut dalam waktu kurang dari dua jam saat musim hujan.
“Dampaknya cukup terasa. Dulu banjirnya cukup tinggi dan lama, sekarang relatif lebih rendah dan cepat surut,” katanya.
Meski demikian, Deny menegaskan pembangunan embung bukan solusi tunggal untuk mengatasi banjir hingga 100 persen. Berdasarkan master plan pengendalian banjir, masih terdapat sejumlah pekerjaan lanjutan yang harus terealisasi. Di antaranya normalisasi dan pelebaran penampang sungai agar mampu menampung debit air secara optimal.
Sepanjang 2025, Dinas PUPR Banjarbaru telah melakukan normalisasi sungai sepanjang sekitar 800 meter di area setelah embung. Selain itu, normalisasi sepanjang 200 meter juga dikerjakan di wilayah setelah Kertak Baru.
Langkah tersebut membantu mempercepat aliran air di bagian hilir sehingga genangan dapat lebih cepat surut. Adapun sisa pekerjaan normalisasi di bagian tengah, khususnya kawasan Kertak Baru, perkiraannya kurang dari satu kilometer.
Tantangan di lokasi ini cukup kompleks karena berada di kawasan permukiman padat. Selain itu, ada sejumlah bangunan yang menjorok ke badan sungai sehingga mempersempit aliran.





