KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah udara Kalimantan Selatan sebagai upaya menekan potensi banjir di daerah rawan.
Operasi modifikasi cuaca tersebut terlaksana selama enam hari, sejak 9 hingga 14 Januari 2026. Hasilnya, berhasil mereduksi curah hujan di wilayah Kalimantan Selatan sebesar 39,54 persen dari prediksi nilai curah hujan yang sebelumnya.
“Reduksi ini diharapkan dapat meminimalisir potensi kejadian bencana serta mempercepat penanganan banjir di wilayah Kalimantan Selatan,” ujar Direktur Kedaruratan BNPB, Agus Riyanto, Jumat (16/1/2026).
Dalam pelaksanaannya, OMC menggunakan pesawat Cessna Caravan 208 dengan nomor registrasi PK-SNM. Modifikasi dengan metode penyemaian awan menggunakan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dan penaburan kalsium oksida (CaO) dari udara.
Agus menjelaskan, teknik ini bertujuan menurunkan hujan lebih awal di wilayah laut atau daerah yang tidak rawan banjir, sehingga volume hujan yang jatuh di kawasan pemukiman padat penduduk dapat ditekan secara signifikan.
“Dengan begitu, hujan dapat dialihkan ke area yang lebih aman dan risiko genangan maupun banjir di daratan dapat dikurangi,” jelasnya melalui pesan singkat.
Selama pelaksanaan OMC, tercatat menggunakan sebanyak 13.000 kilogram NaCl dan 8.000 kilogram CaO dalam 21 kali penerbangan.
Operasi modifikasi cuaca ini merupakan instruksi Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, usai melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Selatan dan meninjau langsung lokasi banjir di Kabupaten Balangan dan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Selama OMC berlangsung, kondisi cuaca di Banjarbaru, Martapura, dan sekitarnya terpantau cukup terik pada siang hari. Meski demikian, hujan masih terjadi pada malam hari dengan durasi relatif singkat, sekitar 5 hingga 10 menit.





