KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Musim penghujan kembali membawa ancaman penyakit bagi warga Kota Banjarmasin. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang mulai menunjukkan tren peningkatan dalam tiga bulan terakhir.
Meski angkanya masih fluktuatif, Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah, mengingat intensitas hujan yang kian meningkat.
Direktur Utama RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin, dr. Muhammad Syaukani, mengungkapkan adanya lonjakan jumlah pasien DBD seiring masuknya musim hujan.
Berdasarkan data rumah sakit, pada Oktober tercatat 18 kasus DBD, terdiri dari 10 pasien anak dan 8 pasien dewasa.
Memasuki November, jumlah kasus sempat menurun menjadi 12 kasus, dengan rincian 10 anak dan 2 dewasa. Namun pada Desember, hingga tanggal 10 saja, RSUD Sultan Suriansyah telah menangani 11 kasus DBD, yang didominasi pasien dewasa sebanyak 9 orang, sementara 2 lainnya anak-anak.
“Ini masih menunjukkan kecenderungan meningkat, karena Desember ini baru berjalan hingga tanggal 10,” ujar Syaukani, Selasa (16/12/2025).
Musim Hujan Periode Rawan DBD
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menjelaskan bahwa musim hujan memang menjadi periode paling rawan terjadinya peningkatan penyakit berbasis lingkungan.
Selain DBD, beberapa penyakit lain yang kerap meningkat antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, serta penyakit kulit akibat paparan air kotor dan genangan pascahujan.
“Kelembapan yang tinggi dan banyaknya genangan air menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Tambah lagi, perubahan cuaca dapat menurunkan daya tahan tubuh masyarakat,” jelasnya.
Ramadhan menegaskan, genangan air di sekitar rumah, selokan yang tersumbat, hingga wadah-wadah air terbuka menjadi lokasi favorit nyamuk penyebab DBD untuk berkembang biak.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan pencegahan mandiri melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta gerakan 3M Plus.
Langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Langkah Plus dilakukan dengan menabur larvasida, menggunakan kelambu, atau memasang obat nyamuk.
Selain menjaga lingkungan, Ramadhan juga mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh di musim hujan. Ia mengimbau masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, serta menghindari kontak langsung dengan air banjir.
“Jangan bermain atau mencuci di air banjir. Jika terpapar air kotor, segera bersihkan diri. Pastikan juga merebus air minum hingga mendidih agar terhindar dari penyakit saluran pencernaan,” terangnya.
Tak kalah penting, agar masyarakat tidak menyepelekan gejala penyakit yang muncul. Jika mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Jangan menunggu terlalu lama, terutama jika demam tidak turun atau dengan penyerta gejala seperti nyeri perut, mimisan, atau tubuh terasa sangat lemas. Untuk diare, pastikan asupan cairan cukup agar tidak terjadi dehidrasi,” tambahnya.
Ramadhan pun mengajak seluruh warga untuk tetap tenang namun waspada. Menurutnya, pengendalian penyakit di musim hujan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh lapisan masyarakat.
“Musim hujan memang berisiko, tetapi dengan gotong royong dan kesadaran bersama, kita bisa mencegah penularan penyakit. Cegah lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya.





