KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Warga Jalan Prona I dan II Banjarmasin Selatan kembali harus bergelut dengan banjir yang setiap tahun datang.
Genangan yang kerap mencapai 40 sentimeter itu membuat warga menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin tidak serius menangani persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut.
Banjir di kawasan itu bukan hanya tinggi, tetapi juga sangat lambat surut berbanding wilayah lain.
Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh, ekonomi merosot, dan rasa tidak aman semakin besar—mulai dari kekhawatiran hewan melata masuk rumah hingga ancaman penyakit akibat genangan yang bertahan lama.
Mama Rizal, pemilik toko kelontong di Jalan Prona II, mengaku omzetnya turun drastis setiap kali banjir datang. Sejak membuka toko pagi hingga siang hari, ia hanya melayani satu pembeli.
“Baru ini ada yang beli. Kalau banjir begini pasti sepi,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).
Menurutnya, warga mungkin sudah terbiasa hidup berdampingan dengan banjir, tetapi dampaknya tetap menyakitkan, terutama bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya.
“Bukan cuma tergenang, tapi usaha kami mati. Belum lagi penyakit dari banjir ini,” keluhnya.
Warga lainnya Arbayah mengeluh hal yang sama, pemilik warung nasi di kawasan tersebut. Setiap kali air naik, warungnya selalu sepi karena warga enggan keluar rumah.
“Orang males keluar kalau banjir setinggi lutut. Dagangan yang laku pun tidak sampai balik modal,” katanya.
Padahal, usaha itu menjadi penopang tambahan ekonomi keluarganya.
Arbayah yang telah 30 tahun tinggal di Prona II mengungkapkan bahwa kondisi genangan parah ini baru terjadi dalam satu dekade terakhir.
“Dulu hampir tidak pernah setinggi dan selama ini. Baru 10 tahun terakhir makin parah. Entah apa penyebabnya,” ucapnya bingung.
Ia pun berharap Pemkot Banjarmasin benar-benar turun tangan menyelesaikan persoalan banjir di kawasan Prona. Mereka menilai pergantian kepala daerah beberapa kali belum membawa perubahan berarti.
“Sudah ganti wali kota, tetap saja banjir. Seperti tidak ada penanganan serius,” ujar Arbayah dengan nada jengkel.





