KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Kota Banjarmasin kembali menjadi sorotan setelah tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Kalimantan Selatan, yakni mencapai 219 kasus. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Banjarmasin untuk meningkatkan kewaspadaan. Mereka memperkuat langkah penanggulangan agar penyebaran penyakit menular tersebut tidak semakin meluas.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menyampaikan bahwa pihaknya kini mengintensifkan strategi penanganan HIV secara menyeluruh. Langkah itu mencakup skrining dini, pengobatan berkelanjutan, hingga pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Langkah awal yang menjadi prioritas adalah perluasan akses skrining dan deteksi dini bagi populasi kunci serta kelompok berisiko. Untuk itu, layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) disiapkan di seluruh puskesmas dan rumah sakit di Banjarmasin.
“Tujuan pengobatan adalah agar ODHA segera mendapatkan terapi antiretroviral (ARV). Ini untuk menurunkan viral load, memperbaiki imunitas, serta menekan risiko penularan maupun angka kematian,” ujar Ramadhan, Rabu (10/12/2025).
Tak hanya pengobatan, dinas juga menjalankan program komprehensif berupa terapi ARV rutin. Ada juga layanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit rujukan, serta perawatan berkelanjutan. Menurut Ramadhan, penanganan ODHA harus melibatkan lingkungan terdekat pasien.
“Selain pengobatan, kami juga melakukan profilaksis penyakit oportunistik, perawatan kondisi kesehatan, pemeriksaan pasangan, hingga pemantauan berkala,” tambahnya.
Upaya pengendalian HIV di Banjarmasin kini melalui program Test and Treat. Ini adalah skrining aktif dengan pengobatan cepat bagi mereka yang hasil tesnya positif. Pendekatan ini fokus pada kelompok berisiko dengan melibatkan puskesmas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan komunitas.
“Kami melakukan VCT mobile ke kelompok berisiko seperti pekerja seks, LSL, pengguna narkoba suntik, hingga tempat hiburan malam,” jelasnya.
Selain langkah medis, Dinas Kesehatan juga memberikan perhatian besar pada edukasi pencegahan. Penyuluhan rutin berjalan melalui advokasi, penyebaran informasi HIV/AIDS, serta sosialisasi ke sekolah-sekolah.
“Edukasi sejak dini penting untuk membangun pemahaman dan mencegah perilaku berisiko di kalangan pelajar,” ucap Ramadhan.
Ia menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan HIV membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya tenaga kesehatan.
“Dengan berbagai langkah ini, kami berharap angka kasus dapat ditekan secara bertahap. Masyarakat juga perlu menghapus stigma terhadap HIV/AIDS, karena ini adalah persoalan kesehatan yang bisa ditangani bersama,” pungkasnya.





