KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah titik api mulai bermunculan di beberapa daerah Kalimantan Selatan. Sejak awal tahun hingga 26 Juli 2025 BPBD Kalsel mencatatkan sedikitnya 1200 titik api terpantau.
BPBD Kalsel telah melakukan beberapa penanganan dini untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banua.
Antara lain melakukan pembasahan di kawasan ring 1, Landasan Ulin (Guntung Damar) atau sekitaran Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin.
Hal ini lantaran tinggi muka air mulai berkurang. Termasuk melakukan pemetaan titik-titik api yang rawan terjadinya karhutla.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi mengatakan, saat ini sudah ada beberapa kabupaten dan kota yang telah menetapkan status siaga darurat karhutla.
“Kami mendorong agar Pemprov Kalsel juga secepatnya menetapkan status siaga darurat kathutla dengan beberapa acuan yang menjadi dasar,” kata Bambang belum lama tadi.
Penetapan status bisa mengacu data dari BMKG dan sejumlah kawasan yang ketinggian debit airnya mulai berkurang. BNPP sendiri sudah siap menyalurkan bantuan dengan syarat harus berstatus siaga darurat terlebih dahulu.
Pemprov Kalsel sudah mengusulkan bantuan ke BPNB berupa 4 helikopter water bombing dan 2 heli patroli. Termasuk usulan bantuan ke BMKG untuk operasi modifikasi cuaca (OMC) atau rekayasa hujan buatan.
Untuk bantuan helikopter, baik water bombing maupun patroli dari BNPB mesti adanya status siaga darurat karhutla terlebih dahulu.
Sedangkan bantuan hujan buatan dari BMKG tidak memerlukan status. Hanya saja ada catatan. Yakni jika potensi awan memungkinkan.
“Akan ada rakor pembahasan penetapan status siaga karhutla. Jika memang sudah siap, maka hari itu juga akan ditetapkan siaga darurat,” ujar Bambang.
Dalam rapat koordinasi siaga darurat karhutla itu nanti, akan menghadirkan semua instansi terkait.
“Bagaimana nanti hasil kesepakatannya, maka akan diumumkan langsung oleh Pak Gubernur,” imbuhnya.
“Untuk status sendiri ada tiga tingkat. Pertama siaga darurat. Kedua, tanggap darurat dan terakhir transisi,” tutup Bambang.





