KALSELMAJU.COM, PELAHIARI – Angka inflasi di Kabupaten Tanahlaut (Tala) untuk bulan Juli 2025 cukup terkendali. Berada di angka 2,74 persen. Masih dalam rentang target nasional, yakni 2,5 ± 1 persen.
Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi nasional. Pelaksanaannya oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara virtual, Senin (11/8/2025). Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Tala, Andres Evony. Bersama bersama seluruh anggota TPID di ruang VIP Lounge Kantor Bupati Tanahlaut.
Turut hadir perwakilan dari Sekretariat Daerah, Polres TanahLaut, Kodim 1009/Tla, Kejaksaan Negeri Tala, Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Perhubungan, Badan Pusat Statistik, Bagian Perekonomian, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kabupaten Tanahlaut pada Juli 2025 tercatat 2,74% (yoy), 0,35% (mtm), dan 0,89% (ytd). Angka tersebut masih berada dalam rentang target nasional, yakni 2,5 ± 1 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar pada inflasi Juli adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi 1,25% (yoy), diikuti kelompok penyediaan makanan-minuman/restoran sebesar 0,58%, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,48%. Komoditas utama pendorong inflasi antara lain bawang merah, cabai rawit, tomat, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan sigaret kretek mesin.
Memasuki awal Agustus 2025, harga cabai rawit mulai menunjukkan tren penurunan. Meski begitu, bawang merah dan beras masih menjadi perhatian karena kenaikan harga terjadi di ratusan kabupaten/kota. Inflasi sektor pendidikan juga meningkat seiring tahun ajaran baru, dengan kenaikan tertinggi pada jenjang TK (1,29%), SD (1,35%), SMP (1,16%), dan lembaga bimbingan belajar (1,91%).
Kemendagri menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga kestabilan harga, memastikan ketersediaan pasokan, serta mengantisipasi potensi kenaikan harga komoditas pangan strategis.





