KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Hujan yang mengguyur Banjarmasin mulai membawa angin segar bagi PAM Bandarmasih. Kualitas air baku di Intake Sungai Bilu juga mulai membaik.
Kadar garam yang sebelumnya mencapai 1.740 kini turun menjadi 1.200 miligram per liter (mg/L).
Meski demikian, PAM Bandarmasih belum bisa memaksimalkan operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1. Instalasi berkapasitas 600 liter per detik itu masih terkendala tingginya kadar garam.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, mengatakan penurunan tersebut terjadi setelah hujan mengguyur Banjarmasin selama dua hari. Hujan turun pada Kamis dan Jumat.
Saat memantau Intake Sungai Bilu pada Sabtu, ia juga melihat perubahan kondisi sungai. Eceng gondok dan teratai mulai bergerak dari hulu menuju hilir.
Fenomena tersebut menjadi tanda meningkatnya debit air sungai setelah hujan.
“Secara visual sudah terlihat bahwa eceng gondok atau teratai yang ada di hulu mulai terdorong menuju hilir atau muara. Ini menandakan debit air sungai mulai naik,” ujarnya, Minggu (8/11/2026).
Zulbadi menyebut kadar garam pada Jumat masih berkisar 1.740 mg/L. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 1.200 mg/L pada Sabtu.
Namun, kadar garam itu masih empat kali lipat dari ambang batas 300 mg/L. Batas tersebut menjadi salah satu persyaratan pengolahan air baku.
Karena itu, PAM Bandarmasih belum bisa mengandalkan Intake Sungai Bilu sepenuhnya. Perusahaan masih harus mengatur pasokan air untuk memenuhi kebutuhan produksi IPA 1.
Sebagai solusi, PAM Bandarmasih mencampur air baku dari dua sumber. Yakni, pasokan IPA 2 di kawasan Jalan Pramuka dan air dari Intake Sungai Bilu.
“Dari kegiatan pencampuran tersebut, air baku yang dihasilkan bisa memenuhi baku mutu yang disyaratkan, yaitu di bawah 300 mg/liter,” jelasnya.
Distribusi Air PAM Bandarmasih Mulai Membaik
Di sisi lain, distribusi air bersih PAM Bandarmasih mulai menunjukkan perbaikan. Kondisi ini juga terlihat hingga ke wilayah ujung pelayanan.
Salah satu indikatornya berasal dari berkurangnya permintaan air melalui mobil tangki.
Sebelumnya, petugas harus mengirimkan air setiap hari. Kini, pengiriman maksimal hanya dua kali dalam sepekan.
“Artinya, distribusi di ujung-ujung pelayanan sudah mulai membaik dan masyarakat sudah bisa mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Zulbadi.
PAM Bandarmasih Terus Pantau Kualitas Air Baku
Meski distribusi mulai membaik, PAM Bandarmasih tetap melakukan pemantauan. Pengawasan mencakup kondisi intake, instalasi pengolahan, hingga operasional booster.
Langkah tersebut bertujuan menjaga kelancaran distribusi. PAM Bandarmasih juga ingin memastikan pelanggan tetap mendapatkan pasokan air bersih.
Zulbadi berharap hujan terus mengguyur sejumlah wilayah. Di antaranya Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Rantau hingga Binuang.
Peningkatan debit Sungai Martapura diharapkan dapat mendorong intrusi air asin kembali ke laut. Dengan begitu, kadar garam pada sumber air baku bisa terus menurun.
“Kami terus melakukan monitoring dan kontrol terhadap kondisi intake, instalasi pengolahan, serta booster untuk memastikan pendistribusian air kepada masyarakat tetap lancar dan kebutuhan air bersih bisa terpenuhi,” pungkasnya.





