KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Seorang guru honorer SD Tanjung Pagar 3, Jalan Gerilya, Banjarmasin Selatan, meninggal dunia setelah sebelumnya sempat mengeluhkan asma yang kambuh di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut.
Guru yang telah mengajar sekitar tiga tahun itu sebelumnya meminta izin tidak masuk sekolah sejak 21 September 2026 karena kondisi asmanya. Pihak sekolah kemudian memberikan izin agar yang bersangkutan beristirahat di rumah.
Kepala SD Tanjung Pagar 3 Banjarmasin, Zainal Abidin Asmari, membenarkan informasi tersebut.
“Memang guru yang bersangkutan minta izin sekitar seminggu karena mengeluhkan asmanya kambuh. Kami izinkan untuk tidak turun ke sekolah apabila kondisinya tidak memungkinkan,” ujar Zainal, Selasa (29/9/2026) siang.
Menurut Zainal, kabut asap di sekitar sekolah saat ini cukup pekat. Lokasi sekolah yang berada di kawasan perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar membuat lingkungan sekolah turut terdampak.
“Memang di lingkungan sekitar sekolah cukup pekat. Karena wilayah sekolah berada di perbatasan, jadi cukup terimbas,” katanya.
Zainal mengatakan kabut asap di kawasan tersebut sudah berlangsung sebulan belakangan. Kondisinya semakin tebal dan mulai mengganggu aktivitas warga sekolah.
Kegiatan pembelajaran pun menyesuaikan kebijakan Dinas Pendidikan, termasuk melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Kondisi tersebut menjadi perhatian pihak sekolah, terutama bagi warga sekolah yang memiliki gangguan pernapasan. Guru maupun warga sekolah yang mengalami keluhan kesehatan mendapat kelonggaran untuk tidak beraktivitas di sekolah ketika kondisi tidak memungkinkan.
Sementara itu, Zainal mengatakan guru tersebut masih terlihat sehat pada sore hari sebelum meninggal. Namun, sekitar pukul 23.30 Wita, yang bersangkutan meninggal dunia setelah mengalami kondisi kesehatan yang berkaitan dengan asmanya.
“Waktu sore sebelum meninggal, beliau masih sehat dan tidak ada masalah. Kemudian meninggal malam sekitar pukul 23.30,” tuturnya.
Meski demikian, pihak sekolah tidak menyimpulkan kabut asap sebagai penyebab kematian. Karena yang bersangkutan mengidap asma.
Zainal berharap kondisi kabut asap mendapat perhatian lebih serius karena dampaknya sangat terasa bagi siswa, guru, dan warga sekolah lainnya.
“Di sisi lain, kami berharap kondisi kabut asap yang terjadi saat ini menjadi perhatian, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para guru, khususnya mereka yang memiliki gangguan pernapasan,” harapnya.
Hingga berita ini tayang, Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin Ryan Utama belum berhasil dimintai keterangan. Karena yang bersangkutan sedang berada di luar daerah.





