KALSELMAJU.COM, PONTIANAK – Saat ini dunia kerja semakin tinggi bebannya, ketika rapat belum selesai, email baru terus berdatangan, pekerja harus menganalisis data bersamaan, memperbaiki presentasi, dan membuat notulen rapat dalam waktu singkat.
Para profesional memerlukan assisten atau laptop yang harus mampu mengikuti ritme kerja, bukan hanya soal performa desain dan kecepatan performa prosesor. Kondisi kesehatan baterai tidak cepat habis dan layar yang harus terlihat terang juga menjadi salah satu alasan ASUS ExpertBook Ultra hadir.
ASUS mencoba menjawab kebutuhan tersebut melalui ASUS ExpertBook Ultra yang mampu berpindah dari ruang rapat, kantor, kafe, hingga bandara.
Laptop bisnis flagship ini hadir dengan kombinasi performa, mobilitas, kecerdasan buatan atau AI, daya tahan, dan keamanan. ASUS bahkan menempatkannya untuk berhadapan langsung dengan sejumlah laptop bisnis premium dari kompetitor.
Di antaranya Lenovo ThinkPad X1 Carbon Gen 13 Aura Edition, Dell Latitude 7450 Premium, HP EliteBook Ultra G1i AI 14, serta Apple MacBook Air M4 13 inci.
Commercial Director ASUS Indonesia Eric Khoven mengatakan ASUS ExpertBook Ultra mengandalkan prosesor hingga Intel Core Ultra X9 Processor 388H generasi terbaru sebagai fondasi era baru Copilot+ PC. Prosesor ini memadukan Neural Processing Unit (NPU) yang mampu menghasilkan performa hingga 50 Trillion Operations Per Second (TOPS).
“Jika menghadapi multitasking korporat, seperti rapat maraton via Teams sambil mengolah ribuan baris data di Excel dan memeriksa ratusan halaman laporan PowerPoint, ASUS ExpertBook Ultra dapat menjalankan semuanya tanpa masalah,” kata Eric.
Menurut Eric, pengguna juga bisa merasakan efisiensi chip saat mengaktifkan fitur notulen otomatis berbasis AI.
“Saat mengaktifkan notulen otomatis berbasis AI, efisiensi chip yang digunakan juga sangat terasa,” tambahnya.
Miliki Fitur ASUS AI ExpertMeet
ASUS juga membekali ExpertBook Ultra dengan fitur ASUS AI ExpertMeet. Fitur ini memanfaatkan NPU untuk memproses transkripsi, menerjemahkan bahasa, dan mengoptimalkan kamera web secara langsung.
Dengan cara tersebut, NPU mengambil alih beban kerja AI sehingga prosesor utama tetap bekerja lebih ringan. Sistem ini juga membantu menjaga konsumsi daya agar tetap efisien. ASUS mengklaim kemampuan tersebut membuat ExpertBook Ultra unggul dalam pemrosesan AI lokal dibandingkan sejumlah produk kompetitor.
Tak berhenti di sana, ASUS menghadirkan Zenni Claw untuk menjalankan agentic AI secara lokal maupun melalui cloud. Pengguna dapat menghubungkan tools tersebut dengan layanan AI dari Anthropic, OpenAI, maupun Google Gemini.
Kapasitas RAM LPDDR5x hingga 64GB juga memberi ruang lebih besar untuk menjalankan large language model (LLM) secara lokal. ASUS menyebut pengguna dapat menjalankan model seperti Gemma dengan 4 miliar parameter dan Qwen 3 dengan 18 miliar parameter tanpa koneksi internet.
Kemampuan tersebut semakin terasa ketika pengguna membawa laptop bekerja di luar ruangan. Mobilitas tinggi menuntut perangkat tetap mampu menampilkan informasi dengan jelas, bahkan ketika pengguna bekerja di bawah paparan cahaya matahari.
“Bayangkan kalau Anda seorang eksekutif yang harus melakukan presentasi mendadak di area luar ruangan kafe atau bandara dengan paparan cahaya matahari langsung,” ujar Eric.
Untuk menghadapi situasi tersebut, ASUS membekali ExpertBook Ultra dengan layar Tandem OLED 14 inci. Layar ini mampu mencapai tingkat kecerahan puncak hingga 1.400 nits.
Kombinasi performa, AI, mobilitas, dan kualitas layar itu memperkuat posisi ExpertBook Ultra sebagai laptop bisnis flagship. ASUS bahkan menyematkan julukan “The Flagship of the Industry” untuk perangkat tersebut.
Ringan dan Fleksibel
ASUS tidak hanya mengejar spesifikasi tinggi. Perusahaan juga membawa pendekatan baru untuk memenuhi kebutuhan pekerja yang harus berpindah tempat, mengolah data, menjalankan AI, hingga menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat.
Bagi dunia bisnis, kemampuan menjalankan AI secara lokal juga memberi keuntungan penting. Perusahaan dapat memiliki kendali lebih besar atas proses pengolahan data sekaligus mengurangi ketergantungan pada koneksi internet.
ASUS merancang ExpertBook Ultra dengan bobot mulai 0,99 kilogram untuk varian POLED dan ketebalan sekitar 10,9 milimeter. Dengan bodi ringan dan baterai yang mampu bertahan hingga 26 jam dalam kondisi penggunaan tertentu, pengguna dapat membawa laptop ini ke mana saja.
ASUS juga memperkuat bodinya dengan sasis Magnesium-Aluminum dan teknologi ASUS Nano Ceramic. ExpertBook Ultra memenuhi standar ketahanan militer US MIL-STD 810H dan mampu menahan tekanan hingga 100 kilogram.
“Bukan untuk show-off, tetapi daya tahan terhadap tekanan hingga 100 kilogram atau lebih akan sangat berguna saat laptop berada di dalam tas dan terhimpit dokumen lain selama perjalanan bisnis,” kata Eric.
ASUS turut melengkapi ExpertBook Ultra dengan sistem keamanan ASUS ExpertGuardian. Sistem ini menggabungkan ASUS Security Processor, Dual Self-healing BIOS ROM, TPM 2.0, Microsoft Pluton, sensor sidik jari, Windows Hello IR, serta penutup fisik kamera.
“Secara fisik, laptop memang bisa dicuri. Tetapi pihak yang tidak berwenang tidak akan mudah mengambil data yang tersimpan di dalam ASUS ExpertBook Ultra,” ujar Eric.





