KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Titik panas atau hotspot berpotensi karhutla di Banjarbaru mulai menunjukkan penurunan. Kendati begitu luas wilayah yang terdampak terus bertambah hingga mencapai 1.263,2 hektare dalam dua bulan terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie, menyebut berkurangnya titik api menjadi perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut belum dapat menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan karena kemunculan hotspot baru masih terjadi.
Menurutnya, salah satu wilayah yang masih menunjukkan kemunculan titik panas baru berada di Kecamatan Cempaka.
“Yang jelas (titik api) pasti berkurang. Tetapi ada lagi hotspot (titik panas) baru yang timbul di daerah Kecamatan Cempaka,” kata Zaini.
Data BPBD Kota Banjarbaru mencatat dua hotspot dengan kategori tinggi masih terdeteksi di Kecamatan Cempaka. Selain itu, titik panas kategori sedang terdapat di Kecamatan Landasan Ulin dan Liang Anggang.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman dan pencegahan tetap berjalan secara intensif. BPBD Banjarbaru telah menyiapkan tiga posko karhutla untuk memperkuat respons di lapangan.
Satu posko di Jalan Tambak Buluh. Sementara dua posko lainnya berada di kawasan Jalan A Yani Kilometer 21, Kecamatan Liang Anggang.
“Dua (posko) di Pal 21 pengelola kawan-kawan komunitas Liang Anggang. Nah, di sana dia bekerja sesuai dengan wilayahnya masing-masing,” jelasnya.
Kabut Asap
Selain ancaman kebakaran yang masih muncul, dampak asap juga mulai kembali terasa. Kabut asap berdasar laporan menyelimuti sejumlah wilayah Banjarbaru pada Rabu pagi.
BPBD pun mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi udara, terutama ketika melakukan aktivitas di luar rumah pada pagi hari.
Sosialisasi mengenai dampak paparan asap karhutla juga terus dilakukan. Warga diimbau menggunakan masker pada waktu-waktu tertentu untuk mengurangi risiko terpapar asap.
“Kami sudah menyosialisasikan pada warga untuk menggunakan masker di waktu-waktu atau jam-jam tertentu, seperti kegiatan aktivitas pagi,” ujar Zaini.
Dengan luas lahan terdampak yang sudah melampaui 1.200 hektare, BPBD menegaskan penurunan titik api belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.
Masyarakat diminta tetap waspada dan ikut mencegah potensi kebakaran, terutama dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api di lahan terbuka.





