KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah daerah di Kalimantan Selatan. Kabupaten Tapin menjadi daerah dengan titik panas yang paling banyak.
Hingga 5 Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat sebanyak 4.440 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terdampak mencapai 25.950,07 hektare.
Periode 1 Januari hingga 5 Oktober 2026 itu juga mencatat akumulasi 38.196 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalsel.
Sebaran karhutla terpantau cukup luas berdasarkan data dari Sipongi Kementerian Kehutanan serta pemantauan satelit NASA.
“Data dari Sipongi Kemenhut serta pemantauan satelit NASA menunjukkan tingkat sebaran karhutla yang cukup merata di Kalsel,” kata Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra.
Banjar tercatat sebagai kabupaten dengan luasan lahan terdampak paling besar. Hingga periode tersebut, karhutla di daerah ini mencapai 6.729,65 hektare, dengan 993 kejadian dan 6.293 titik hotspot.
Selain Kabupaten Banjar, sejumlah daerah lain juga mencatat luasan lahan terdampak yang cukup besar. Hulu Sungai Selatan tercatat mengalami karhutla dengan luasan 4.136,14 hektare dari 511 kejadian dan 5.577 hotspot.
Kemudian Tanahlaut mencatat 3.371,29 hektare lahan terdampak dari 650 kejadian dan 3.255 hotspot. Di Kota Banjarbaru, luas lahan terdampak mencapai 3.231,33 hektare dari 843 kejadian dan 1.156 hotspot.
Sementara itu, Baritokuala mencatat 2.995,12 hektare lahan terdampak dari 421 kejadian dan 2.324 hotspot.
Adapun Tapin menjadi kabupaten dengan jumlah hotspot tertinggi dalam data tersebut, yakni mencapai 7.178 titik, meski luas lahan terdampaknya tercatat 2.600,48 hektare dari 319 kejadian.
Sebaliknya, Kota Banjarmasin mencatat luasan lahan terdampak paling rendah, yakni 8,25 hektare dari 61 kejadian dan 5 titik hotspot.
BPBD Kalsel bersama Satgas Karhutla gabungan terus memperketat penanganan dan pemantauan di lapangan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya area kebakaran sekaligus menekan kemunculan titik panas baru, terutama di wilayah yang rawan terjadi karhutla.





