KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Enam hari berlalu sejak musibah Kapal Virgo Transport 8. Namun, bagi Munah, penantian belum berakhir. Ia masih menunggu suaminya pulang dari perjalanan yang tak kunjung membawanya kembali ke rumah.
Setiap kali suaminya pergi bekerja sebagai sopir barang ekspedisi, Munah selalu menyiapkan kopi hitam kesukaannya. Kali ini, kopi itu kembali dibuat, tetapi belum juga diminum oleh sang suami.
“Karena bapa tidak suka kalau kopinya dalam keadaan panas. Dia lebih suka kopi yang sudah dingin dengan ditemani ubi rebus,” ujar Munah lirih, Jumat (18/9/2026).
Enam hari pula Munah menunggu kabar tentang kondisi suaminya yang menjadi korban musibah terbaliknya Kapal Virgo Transport 8.
Di tengah ketidakpastian itu, Munah masih menyimpan harapan. Ia ingin suaminya kembali duduk di rumah dan menikmati kopi hitam yang selalu disiapkannya.
“Entah kenapa aku masih yakin, suami saya masih hidup. Tapi ulun sudah siap mendengar kabar apa pun, baik itu hidup maupun tidak suami saya,” ungkapnya.
Kecemasan juga terasa Muhammad Hafiz (19), anak Munah. Sejak mendengar kabar musibah tersebut, ia sulit makan dan tidur karena terus memikirkan sang ayah.
Beberapa hari setelah kejadian, Hafiz bahkan bermimpi bertemu ayahnya. Dalam mimpi itu, sang ayah berdiri di depan rumah mengenakan pakaian serba putih.
Hafiz langsung berlari dan memeluknya. Namun, sesaat kemudian sang ayah menghilang.
“Langsung saya datangi, saya peluk. Tiba-tiba beliau hilang gitu aja,” kata Hafiz dengan mata berkaca-kaca.
Mimpi itu menjadi penguat bagi Hafiz di tengah penantian. Ia masih berharap ayahnya ditemukan dan dapat kembali ke rumah.
“Gimana pun itu asal bapak ketemu, datang, udah,” ujarnya.
Kedekatan Hafiz dengan ayahnya membuat penantian tersebut semakin berat. Ia kerap mengantar sang ayah berangkat kerja dan menjemputnya ketika pulang dari Surabaya.
Kini, kenangan itu kembali terbayang. Namun, Hafiz juga memikirkan kondisi ibunya yang terus menangis menunggu kabar.
Ia masih berharap pencarian Tim SAR menemukan sang ayah. Bagi Hafiz, yang terpenting keluarganya mendapat kepastian tentang kondisi terakhir sang ayah.
“Berharap sebenarnya masih, tapi saya juga menyisakan ruang kecewa,” tuturnya.





