KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Belum resmi berfungsi, pembangunan jembatan penghubung Jalan Simpang Ulin dan Jalan Veteran, Kecamatan Banjarmasin Tengah, mulai menuai polemik.
Jembatan yang merupakan bagian dari proyek National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) tersebut jadi sorotan warga karena konstruksinya terlalu tinggi dan berpotensi membuat tanjakan berbahaya bagi pengendara.
Selain persoalan keselamatan, perubahan konstruksi di sekitar jembatan juga bisa memengaruhi aliran drainase dan memicu genangan di kawasan permukiman.
Sorotan terhadap proyek tersebut datang dari berbagai pihak, mulai dari warga, akademisi hingga YLKI Kalimantan.
“Kami akan berkoordinasi langsung dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut,” ujar Kepala Dinas PUPR Chandra Iriandi Wijaya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Chandra, pihaknya perlu koordinasi untuk memastikan jembatan nantinya tetap nyaman sekaligus memenuhi aspek keselamatan dan keamanan bagi pengguna jalan.
Terkait konstruksi jembatan yang saat ini terlihat menjulang tinggi, Chandra menjelaskan pengerjaan proyek tersebut belum sepenuhnya rampung.
Bagian yang terlihat saat ini, kata dia, baru merupakan abutment atau struktur bawah jembatan. Sementara jalan pendekat atau oprit yang menghubungkan jembatan dengan badan jalan masih dalam proses pengerjaan.
“Bisa saja terlihat tinggi karena saat ini belum selesai. Itu masih bagian abutment. Nanti ada bagian oprit yang menyambung langsung ke jalan agar landai dan nyaman dilalui,” jelasnya.
Chandra memastikan desain oprit nantinya tetap memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan. Kemiringan jalan akan disesuaikan agar kendaraan tidak mengalami kesulitan saat melintas.
“Tentu standar oprit yang diinginkan adalah yang aman dan tidak terlalu menanjak (mandaki),” tegasnya.
Namun, persoalan jembatan tidak hanya berkaitan dengan ketinggian konstruksi. Kekhawatiran lain muncul terkait potensi genangan akibat perubahan alur drainase di sekitar lokasi proyek.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi jembatan berada tidak jauh dari kawasan permukiman warga.
“Terkait potensi banjir, itu kan berkaitan langsung dengan sistem saluran drainase. Nanti akan kami cek dan evaluasi kembali di lapangan bersama BWS Kalimantan III,” ujarnya.
Menurutnya, evaluasi penting sebelum memungsikan jembatan secara penuh. Pemkot Banjarmasin ingin memastikan persoalan teknis, baik kemiringan jalan maupun sistem drainase, dapat ditangani terlebih dahulu.
Dengan demikian, keberadaan jembatan tidak hanya mendukung konektivitas jalan, tetapi juga tetap aman bagi pengendara dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi kawasan sekitar.
“Kami menargetkan evaluasi teknis bersama BWS Kalimantan III dilakukan secepatnya,” pungkasnya.





