KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Rencana penerapan metode padi apung di Banjarmasin menghadapi tantangan serius akibat kondisi pasang surut air yang tidak stabil.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Yuliansyah Effendi, menegaskan karakter perairan di kota ini tidak memenuhi syarat utama budidaya padi apung.
“Padi apung membutuhkan lahan yang selalu tergenang dengan ketinggian air stabil. Sementara di Banjarmasin, airnya pasang surut, sehingga penerapannya sulit,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, tanaman padi apung tetap memerlukan kontak akar dengan tanah meski berada di atas air. Namun, fluktuasi air yang tinggi berisiko merusak tanaman.
“Ketika air naik terlalu tinggi, akar yang sudah menempel bisa terputus. Ini yang menjadi kendala utama,” jelasnya.
Meski demikian, DKP3 tidak menutup peluang penerapan metode padi apung tersebut. Pihaknya masih melakukan identifikasi lokasi yang memungkinkan untuk uji coba.
Sebagai langkah awal, DKP3 berencana menguji padi apung di lahan sekitar kantor untuk mempelajari karakter pertumbuhan tanaman dalam kondisi perairan lokal.
“Kami akan uji coba dulu untuk melihat apakah ada kondisi yang memungkinkan metode ini diterapkan,” pungkasnya.





