KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Belakangan, isu beras oplos mencuat di Indonesia. Termasuk di Kalimantan Selatan. Menanggapi soal itu, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Ahmad Bagiawan melakukan investigasi.
Dia turun langsung ke lapangan. Ivestigasi ini berjalan sejak 10 hari belakangan. Mulai dari pengecekan di sejumlah pasar tradisional.
Namun pada sidak di ritel modern, petugas mendapati beberapa merk beras kemasan yang dugaannya merupakan beras oplos.
“Kami menemukan tiga merek beras kemasan yang tidak sesuai dengan informasi di label,” papar Bagiawan, Rabu (30/7).
Petugas membawa sampel ketiga merek ini ke Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) di Banjarbaru.
Hasilnya, menunjukkan ketidaksesuaian antara label dan isi kemasan. Hal tersebut yang menguatkan dugaan beras oplosan.
Bagiawan bilang, beras oplosan itu bukan palsu. Tapi beras tersebut isinya tidak sesuai dengan label yang tertera di kemasan. Misalnya, satu merek tertentu, tetapi isinya tidak murni 100 persen berasal dari produsen tersebut.
Kendati begitu, dinas meminta masyarakat tidak perlu khawatir atau panik secara berlebihan.
“Mayoritas masyarakat Banjar tidak menyukai beras pulen yang umumnya menjadi target beras oplosan. Warga kita terbiasa dengan beras lokal,” jelasnya.
Dari data Dinas Perdagangan Kalsel, produksi gabah lokal Kalimantan Selatan mencapai 1 juta ton per tahun, yang bila dikonversi menjadi beras sekitar 550 ribu ton.
Sementara kebutuhan konsumsi hanya sekitar 450 ribu ton, sehingga terjadi surplus 100 ribu ton yang umumnya disalurkan ke provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Meski kondisi di pasar tradisional terpantau aman, Dinas Perdagangan tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Kami terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, termasuk Polda Kalsel. Kemarin juga ada pertemuan lintas sektor yang diinisiasi oleh Bank Indonesia dalam rangka pengendalian inflasi daerah,” ungkapnya.





