KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Di sebuah gang sempit bernama PDI, di kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, deretan nisan tanpa nama berdiri diam. Mereka dikelilingi langit mendung yang menggantung seolah enggan bergerak. Tak ada taburan bunga, tak terdengar doa terpanjatkan. Hanya suara angin dan desau dedaunan menyapu makam-makam bisu itu. Mereka adalah saksi dari sebuah tragedi besar yang mengguncang Kalimantan Selatan, 28 tahun silam, yakni Tragedi Jumat Kelabu, 23 Mei 1997.
Dahlan, 53 tahun, penjaga makam yang setia merawat tempat ini, berjalan perlahan. Dia berjalan di antara pusara yang nyaris tak lagi terlihat batasnya. Rumput liar tumbuh lebat, menyembunyikan banyak makam dari pandangan.
“Kalau 200 jasad mungkin tidak, tapi lebih dari seratus itu pasti,” ujarnya lirih.
Setiap tahun, hanya segelintir orang datang ke sana. “Paling dua atau tiga orang. Biasanya keluarga yang masih yakin kerabatnya di makamkan di sini,” kata Dahlan. Mereka datang untuk sekadar memasang batu nisan, menabur bunga, atau sekadar berdiri dalam diam, mengenang yang tak sempat berpamitan.
Namun Jumat Kelabu bukan sekadar soal jumlah korban yang hingga kini masih simpang siur—antara 121 hingga 170 jiwa. Ada pula 179 orang yang hingga hari ini masih hilang. Sebagian besar korban tewas akibat terjebak dalam kebakaran di Mitra Plaza. Itu adalah pusat perbelanjaan yang menjadi episentrum kekacauan.
Banyak Cerita Mistis dari Kerusuhan 23 Mei 1997
Dahlan menyimpan kisah lain—bukan dari buku sejarah, tetapi dari bisik-bisik warga sekitar. “Setiap tanggal 23 Mei, ada saja yang kesurupan di dekat Mitra Plaza. Katanya, itu arwah korban yang belum tenang. Mungkin mereka ingin di dengar,” tuturnya pelan.
Cerita mistis itu mungkin terdengar tak masuk akal di tengah dunia yang semakin rasional. Tetapi dalam setiap tragedi besar, tak semua luka bisa di jelaskan dengan logika. Ada trauma yang tertanam begitu dalam—pada mereka yang selamat, dan pada mereka yang ditinggalkan.
Kini, ketika generasi baru nyaris tak mengenalnya, dan jejak tragedi mulai tertutup oleh waktu dan rumput liar, makam massal di Km 22 itu tetap berdiri sebagai penanda.
Sebagai pengingat, bahwa kedamaian adalah sesuatu yang harus senantiasa terjadi. Bahwa kebencian bisa menjadi bara yang mematikan, dan bahwa nyawa manusia tak boleh diremehkan—apa pun latar belakangnya.
28 tahun tragedi Jumat Kelabu bukan hanya lembaran kelam dalam sejarah Kalimantan Selatan. Ia adalah peringatan. Tentang bagaimana rapuhnya harmoni sosial, tentang bahaya fanatisme berbalut politik. Tentang bagaimana sejarah bisa terulang jika kita memilih untuk melupakannya.





