KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Jenazah Imam Bukhari, korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa, akhirnya ditemukan dan dievakuasi tim SAR. Kabar tersebut membuat keluarga bersyukur karena dapat memberikan penghormatan terakhir kepada Imam.
Ayah Imam, Saladin, mengaku bersyukur putranya berhasil ditemukan. Meski kehilangan anak menjadi pukulan berat, ia memilih menerima kepergian Imam sebagai takdir.
“Pertama saya ucapkan terima kasih kepada tim SAR sudah mengevakuasi anakku sampai ketemu. Kalau masalah umur itu Allah yang menentukan. Kalau sudah tidak ada umurnya, asal ada jasadnya saya ikhlas,” ujar Saladin lirih, Jumat (2/10/2026).
Bagi Saladin, ditemukannya jasad sang anak menjadi hal penting bagi keluarga. Ia mengatakan keluarga memilih menerima kepergian Imam dan tidak ingin memperpanjang kesedihan.
“Kami tidak ada masalah lagi, kami ikhlas. Itu sudah takdir. Kalau ditanya siapa yang mau kehilangan anak, tentu tidak ada yang mau. Kami keluarga hanya bisa pasrah,” katanya.
Di tengah keikhlasannya, Saladin berharap tragedi serupa tidak kembali terjadi. Ia meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap kapal sebelum memberikan izin berlayar.
“Kami berharap tidak akan ada lagi kejadian seperti ini. Mudah-mudahan ke depannya diperketat oleh pemerintah. Bila dinilai tidak layak berlayar, jangan diberikan izin,” tegasnya.
Saladin juga meminta nakhoda menjalankan tanggung jawab ketika kapal menghadapi kondisi darurat. Ia berharap pengalaman nakhoda turut menjadi perhatian dalam keselamatan pelayaran.
“Jangan ada lagi kapten yang lepas tangan. Seharusnya bertanggung jawab dengan apa yang seharusnya dilakukan,” ujarnya.
“Kalau kapten yang tidak berpengalaman, jangan dipakai sebagai nakhoda. Ini menjadi pengalaman agar tidak ada lagi musibah besar seperti ini,” kata Saladin.
Saladin Sempat Minta Imam Berangkat Sabtu Malam
Kenangan tentang perjalanan terakhir Imam juga masih diingat keluarga. Sebelum berangkat menggunakan KM Virgo Transport 8, Imam sempat berencana berangkat pada Sabtu malam, tetapi rencana tersebut batal.
Saladin mengaku sempat meminta putranya berangkat pada Sabtu malam. Setelah itu, komunikasi dengan Imam tidak berjalan seperti biasanya.
“Sebelumnya sudah diminta berangkat malam Sabtu saja. Makanya almarhum tidak mau menghubungi karena tidak sesuai arahan saya,” tuturnya.
Keluarga kemudian mendapat kabar Imam berangkat pada Minggu malam. Tak lama berselang, mereka menerima kabar mengenai tenggelamnya kapal.
“Saat mendengar, aku hanya memukul dada dan beristighfar,” ucapnya.
Menurut Saladin, Imam biasanya selektif memilih kapal untuk bepergian. Ia bahkan pernah menyampaikan keinginannya menggunakan kapal yang lebih besar dan memiliki waktu tempuh lebih cepat.
“Ulun maunya kapal ini yang besar dan cepat jalannya,” kata Saladin, mengulang ucapan almarhum semasa hidup.
Imam bekerja sebagai sopir dengan rute Solo-Sidoarjo-Surabaya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia biasanya kembali menggunakan kapal untuk perjalanan berikutnya.
“Almarhum ini bekerja sebagai sopir dari Solo ke Sidoarjo, langsung ke Surabaya. Pulang paling tidak dua sampai tiga hari, kembali lagi ke kapal,” ujar Saladin.
Kini, perjalanan terakhir Imam telah berakhir. Bagi keluarga, jasad sang anak yang sudah ketemu menjadi kesempatan untuk mengantarnya pulang dan memberikan penghormatan terakhir.




