Tragedi Kemah MTs Al Furqon, Keluarga Korban Minta Polisi Usut Pengawasan Sekolah

oleh
oleh
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Keluarga dua siswa MTs Al Furqon Banjarmasin yang meninggal dunia diduga tenggelam saat mengikuti kegiatan kemah di kawasan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Barito Kuala (Batola), meminta polisi mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Keluarga menyoroti dugaan minimnya pengawasan terhadap para siswa selama kegiatan, termasuk komunikasi dan pemberitahuan kepada keluarga setelah salah seorang korban tidak lagi dapat mereka hubungi.

Salah satu korban, Farhan (alm), sempat meminta orang tuanya menjemput setelah kegiatan kemah. Ibunya, Atikah, mengatakan ia dan suami sempat berkomunikasi dengan Farhan sebelum kehilangan kontak.

“Farhan minta dijemput pukul 10 pagi, namun jadwal penjemputan berubah menjadi pukul 11 pagi. Hingga saat itu Farhan tidak bisa dihubungi lagi,” ujar Atikah, Senin (7/9/2026), di kediaman nenek korban.

Merasa khawatir, Atikah kemudian berupaya mencari informasi keberadaan anaknya dengan menghubungi pihak guru. Namun, ia mengaku justru mengetahui kondisi Farhan dari seorang temannya yang juga merupakan orang tua siswa di sekolah tersebut.
Keluarga Sesalkan Tak Ada Pemberitahuan Pihak Sekolah

“Dan itu pun Ulun (saya) baru mengetahui dari teman saya yang kebetulan orang tua murid siswa di sana,” katanya.

Keluarga Sesalkan Tak Ada Pemberitahuan Pihak Sekolah

Sorotan serupa datang dari Hilda, tante korban kedua, Rizky Adly Fakhrian (alm). Ia mengaku terkejut setelah mengetahui keponakannya meninggal dalam peristiwa tersebut.

Atikah menyesalkan tidak adanya pemberitahuan langsung dari pihak sekolah terkait kondisi anaknya. Ia juga mempertanyakan upaya pencarian Farhan yang sempat hilang kontak selama sekitar dua jam.

“Kami minta kasus ini diusut tuntas pihak kepolisian agar tidak ada lagi kejadian serupa,” tegasnya.

Menurut Hilda, Adly merupakan anak yang santun dan tidak banyak tingkah. Ia bahkan rutin mengantarkan keponakannya ke sekolah setiap pagi.

Hilda mengatakan keluarga memperoleh informasi terdapat lima siswa yang tenggelam dalam peristiwa tersebut. Tiga siswa berhasil selamat, sedangkan dua lainnya meninggal dunia.

“Kami hanya menerima informasi dan cerita, dan setiap orang berbeda-beda memberikan informasi kronologi kejadian,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan pengawasan selama kegiatan kemah. Hilda menilai para siswa yang belum memahami kondisi medan di sekitar lokasi membutuhkan pengawasan lebih ketat.

“Kami sangat menyayangkan tidak adanya pengawasan dari pihak sekolah, padahal anak-anak masih belum banyak tahu tentang medan kawasan tempatnya berkemah,” katanya.

Keluarga berharap kepolisian mengusut secara menyeluruh penyebab peristiwa tersebut, termasuk pengawasan terhadap para siswa selama kegiatan dan mekanisme penanganan ketika korban mulai hilang kontak.

“Kami berharap kejadian tersebut bisa diusut tuntas dan pihak keluarga bisa mendapatkan keadilan dari pihak sekolah,” tandas Hilda.

Dua siswa MTs Al Furqon Banjarmasin, yakni RAF (13) dan MFA (13), menjadi korban tenggelam di sebuah kolam di kawasan Kampus UMB, Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Alalak, Batola.

Keduanya merupakan siswa kelas VII yang berada di lokasi untuk mengikuti kegiatan Keceriaan Kemah Akbar bersama ratusan pelajar lainnya.

Kegiatan tersebut berlangsung Sabtu (5/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026) dan diikuti peserta dari jenjang MTs, SMK hingga MA.

Informasi yang dihimpun, kedua korban baru diketahui hilang saat seluruh peserta bersiap pulang. Panitia kemudian melakukan absensi terhadap para siswa satu per satu.

Saat nama kedua korban dipanggil, tidak ada jawaban. Situasi kemudian berubah panik setelah muncul informasi bahwa keduanya terakhir kali terlihat sedang mencuci kaki usai mengikuti permainan basah-basahan di area lapangan.

Visited 1 times, 1 visit(s) today