Perlu Biaya Berkisar 7,5 Miliar, Penanganan Permanen Jalan Veteran Km 5,5 Sungai Lulut, Lahan Sisi Sungai juga Harus Bebas

oleh
Seorang warga masuk ke dalam lubang Jalan Veteran Km 5,5 yang ambles. Foto : Istimewa
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Penurunan badan Jalan Veteran Km 5,5 Sungai Lulut tak bisa terindahkan. Terjadi berulang. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel sejatinya menyiapkan penanganan jangka panjang.

Bukan sementara seperti yang sudah sudah. Penanganan permanen melalui pembongkaran total badan jalan. Yang mana sepanjang jalan berdiri tak pernah terlaksana. Penanganan permanen selain memerlukan dan yang cukup besar juga perlu pembebasan bangunan milik masyarat.

“Jika penyebab utama penurunan belum ditangani secara komprehensif, kerusakan berpotensi muncul kembali. Oleh karena itu, kami langsung menyiapkan rekomendasi tindak lanjut untuk penanganan yang lebih permanen,” jelas Kepala Dinas PUPR Kalsel, M. Yasin Toyib, Rabu (15/7/2026).

Untuk penanganan permanen, perlu pembanguan struktur pengaman tepi Sungai. Pilihannya dinding penahan tanah (DPT) atau sistem pile slab (tiang penahan). Kondisi serupa pernah terjadi di Jalan Martapura Lama, Desa Keliling Benteng.

Di mana penurunan badan jalan terjadi berulang. Setelah pembangunan menggunakan pile slab tidak terjadi lagi penurununan badan jalan. “Sistem pile slab salah satu pilihan pembangunan permanen di Jalan Veteran Km 5,5,” kata Yasin.

Kedalaman Tiang Jalan Veteran 30 Meter

Yasin berhitung sesuai standar pembangunan sistem pile slab per meternya Rp150 – 200 juta maka keperluan biaya berkisar Rp7,5 miliar. Dengan asumsi kerusakan badan jalan seperti saat ini yaitu sepanjang 50 meter.

“Pada posisi jalan yang ada perkiraan kedalaman tiang sampai titik tanah keras 30 meter. Jika demikian maka struktur jalan kuat meski di atasnya terdapat beban,” tuturnya.

Yasin menyebut selain memerlukan anggaran yang cukup besar. Pembangunan permanen juga memerlukan ketersediaan lahan. Bangunan pada sisi Sungai harus sepenuhnya bebas. “Tidak mungkin alat berat beraktivitas di titik sempit. Belum lagi material,” ucapnya.

Sebelum menentukan metode permanen, pemerintah akan melakukan investigasi teknis meliputi survei visual, pemetaan retakan, pengujian struktur perkerasan melalui test pit, core drill dan Dynamic Cone Penetrometer (DCP).

Pada titik tersebut selama ini penanganan bersifat sementara. Berupa overlay perkerasan dan perbaikan lapis pondasi agregat guna menjaga fungsi jalan tetap berjalan. “Namun karena penyebab utama belum tertangani secara menyeluruh, kerusakan serupa berpotensi kembali terjadi,” ucap Yasin.

Visited 1 times, 1 visit(s) today